Archive for June 2007

Topcon

Matahari sudah meninggi di timur ketika saya keluar dari lift apartemen yang memiliki 14 lantai itu, saya tinggal di lantai 7 jadi setiap kali naik turun apartemen harus selalu pakai lift, kecuali kalau lagi pengen berkeringat. Saya bergegas menuju stasiun Port Liner.
Penumpang di kereta Port Liner, yg melaju tanpa masinis agak sepi karena hari ini memang libur. Di antara sekian banyak penumpang hanya beberapa yg memakai jas, termasuk saya, selebihnya pakaian santai. Beberapa terdengar bercakap Cina dgn logat yang tidak terlalu lazim sehingga saya menduga mereka mungkin orang Taiwan, kelompok di sebelahnya lagi asyik bercakap dengan bahasa “annehaseyo”, alias Korea. Sejak bandara Kobe dipromosikan besar2an, penumpang kereta ke pulau buatan ini semakin beragam sebab penumpang dari Cina dan Korea banyak yg masuk lewat Kobe.

Hari ini saya mengikuti ujian psikologi, IQ, dan wawancara sebuah perusahaan pembuat alat2 keker, pemeriksa mata, dan hal2 yg menyangkut lensa dan positioning, termasuk car navi, nama perusahaannya TOPCON.
Sebelumnya hari jumat kemarin saya sudah mengikuti seminar perusahaannya yang kedengarannya menyenangkan dan menantang sebab teknologi yang mereka buat masih dalam tahap pengembangan dan berpotensi sangat besar. Mereka mengklaim menguasai pasar domestik 77% dan sekitar 1/3 dari total pasar dunia dalam alat2 kontruksi, automatic bulldozer system, medical equipment, dll. Mereka menitikberatkan fokus mereka pada sistem yang menggunakan satelit GPS-nya Amerika, Galileo-nya Eropa, dan satu lagi satelit rusia yg saya lupa namanya. Dengan sistem yg mereka buat, proses penimbunan dan pengurukan tanah berhektar-hektar di Dubai, Nigeria, Saudi Arabia, dan Amerika bisa berlangsung tanpa memerlukan keahlian manusia, sebab semua ukuran, ketinggian, dan volume dihitung dari atas angkasa dan bulldozer digerakkan dengan menggunakan kontrol jarak jauh. Selain itu pertanian yg menggunakan lahan berhektar-hektar bisa digemburkan, ditanami, disiram, dan dipanen dengan teratur dan mudah karena semua penanda, pengukur, dan pelaksana dipandu oleh satelit.
Teknologi ini sangat berpotensi maju, sebab teknologi yang mereka kembangkan bisa berkembang pada hal2 yg bahkan belum kita bayangkan saat ini.

Tes psikologi dan IQ berlangsung cukup santai, soal2nya juga tergolong mudah karena pengetahuan umumnya betul2 yg bersifat umum, seperti siapa perdana menteri pertama Jepang, atau apa nama SB-nya Japan Bank, dll. Walaupun saya sempat tercenung karena betul2 lupa beberapa istilah2 dalam ekonomi 🙂
Setelah ujian kertas beres saya sempat istirahat 3 jam karena harus menunggu giliran wawancara. Akhirnya setelah makan siang, saya ngabur ke kantor pusat TV Kansai yang arsitek bangunannya cukup unik. Setelah puas2 keliling stasiun TV kebanggaan orang Osaka itu, akhirnya saya kembali ke ruang tes dan sejam kemudian saya sudah duduk menghadapi seorang kepala bagian personalia bernama Honma.

Honma-san masih terlihat muda dan dengan teratur bertanya tentang riwayat pendidikan dan pekerjaan. Beliau terlihat antusias ketika mengupas masalah kenshusei yang menurut beliau sebenarnya diperalat oleh pengusaha2 Jepang sebab dipekerjakan dengan gaji murah.
Saya mengiyakan pendapat beliau tapi kemudian menimpali dengan ucapan “Sou iwaretara sou desu ga, watashi tekiniwa son to wa iemasen. Nazeka to iu to, kenshusei no kyuuryou wa ikura yasukutemo, indonesia ni hataite iru no kyuuryou yori mo nanjuubai desu.” (kalau dibilang gitu sih memang ada benarnya, tapi bagi saya sama sekali tidak merasa dirugikan. Sebab, semurah-murahnya gaji kenshusei, kalau dibandingkan dengan gaji orang yg bekerja di Indonesia tetap saja puluhan kali lipat). Beliau tersenyum dan menatap saya sesaat. Mungkin akhirnya beliau mengerti posisi kita, orang Indonesia.
Saya meninggalkan ruangan dan mengucap salam kepada pak Honma sebelum menutup pintu.

Staf beliau yg bernama mbak Kasuga membungkukkan badan dan mengucapkan terima kasih atas kedatangan saya. Saya pun membungkukkan badan dalam2 dan mengucapkan terima kasih sebelum mengambil tas dan berlalu dari gedung Temma Training Centre itu.

50 juta orang

Akhirnya hari ini di TV Fuji muncul iklan yang berisi permohonan maaf dari departemen kesejahteraan sosial Jepang. Iklan itu meminta maaf atas kekisruhan yang timbul akibat raibnya catatan pensiunan warga negara Jepang sejumlah lebih dari 50 juta orang. Di iklan itu juga pemerintah berjanji untuk mengusut tuntas masalah itu dan meyakinkan warga negara bahwa dana pensiunan mereka kelak di hari tua tetap ada.

Iklan ini sebenarnya sudah terlalu terlambat setelah kasak kusuk permasalahan ini merebak beberapa bulan silam. Bermula dari ditemukannya kejanggalan pada pembayaran pensiunan beberapa orang senior citizen, lantas kemudian membuat orang2 setengah baya menjadi khawatir akan kasus yg sama terjadi pada mereka di masa datang sehingga mereka mengecek dan mendapatkan hasil yang meragukan, hingga akhirnya terbuka secara besar2an system fault pada database pemerintah.
Pada umumnya kesalahan sistem terjadi pada saat migrasi data besar2an dari sistem kartu manual ke sistem database komputer di era tahun 80-90an. Ada berbagai macam sebab tapi pada dasarnya bisa dimasukkan pada satu kategori besar, DATA INPUT ERROR.
Di antara kesalahan itu ada yg salah memilih kanji yang benar, alamat, nomor nenkin, atau tahun pembayaran.
Di satu sisi, permasalahan ini menunjukkan kelemahan sistem komputerisasi ketika operatornya tidak terlatih baik. Tapi di sisi lain, permasalahan ini sekaligus menunjukkan kekuatan sistem komputerisasi, karena tidak mungkin mengetahui adanya kesalahan data dengan cepat seperti sekarang ini kalau tidak ada sistem komputerisasi yang mumpuni seperti sekarang. Apakah anda bisa membayangkan mengecek data 50 juta orang dalam jangka waktu beberapa bulan? Boleh dikata mustahil.
Jadi, kalau ada pilihan antara manual dan komputerisasi, saya yakin kita akan tetap memilih komputerisasi.

Jepang yang dikenal sebagai negara maju sebenarnya tidaklah semaju bayangan orang Indonesia dalam dunia per-IT-an, setidaknya itulah kesimpulan pribadi saya setelah beberapa hari belakangan berkelana mengikuti seminar2 ttg isi dalam perusahaan2, khususnya yg menyangkut administrasi data.
Tidak sedikit perusahaan2 yg mengaku gudangnya ahli IT, mempekerjakan orang2 yg latar belakangnya sama sekali bukan dari IT. Pendidikan IT pegawai2 mereka kebanyakan diperoleh dari pelatihan2 setelah masuk kerja, bukan dari universitas2 tempat mereka tamat.

Saya tidak mengatakan bahwa mereka kurang cakap dalam IT. Tapi memberikan pelatihan bahasa C kepada orang yang pernah belajar bahasa itu beberapa tahun semasa kuliah tentu akan lebih mudah ketimbang orang yang selama 4 tahun belajar tentang sejarah hidup Sakamoto Ryoma 🙂
Saya yakin kalau dihitung persentase mahasiswa2 ilmu komputer per total mahasiswa, maka angka di Indonesia akan lebih tinggi dibanding di Jepang. Walaupun saya tidak berani mengatakan bahwa persentase kualitasnya sama.

Dengan terus terangnya pemerintah Jepang akan kekacauan data pensiunan yg mereka miliki ini, mungkin akan timbul beberapa efek pada program nenkin. Pada saat tidak ada masalah pun ada banyak kalangan muda yg menolak masuk program itu, apalagi sekarang dengan kekacauan ini, akan ada lebih banyak warga negara yg memilih untuk tidak masuk nenkin.
Akan halnya orang asing, khususnya kenshusei asal Indonesia, kekisruhan permasalahan database pemerintah ini bisa berakibat pada melambatnya proses pengembalian iuran pokok nenkin, dan tentu saja pada proses pengembalian pajak nenkin mereka. Selama satu terakhir ini saja tercatat pelambatan proses pengembalian iuran pokok yang semula rata-rata 3 bulan menjadi rata-rata 5-6 bulan. Pengembalian pajak nenkin yg di tahun 2004-an, ketika kami pertama kali mengelola layanan Suzuki Office+Kurniawan A&S, hanya memakan waktu 50 hari-an, sekarang ini bisa melar hingga berbulan-bulan. Bahkan di catatan kami ada sekitar aplikasi yang masih ditahan oleh kantor pajak daerah lebih dari 6 bulan dengan alasan data yang tidak cocok atau tidak lengkap.
Entah data tidak cocok, atau jangan2 seperti data orang2 Jepang itu, RAIB alias HILANG 🙁

Mudah2an saja untuk orang asing seperti kita, data tidak ada yg hilang, sebab semua kenshusei yg masuk program nenkin ini sudah menggunakan sistem komputerisasi sejak awal, amin.

Kalau sistem database di Suzuki+Kurniawan ( http://pajaknenkin.com ) gimana? Tenang aja, sistem database kami sejak semula sudah digital dan online sehingga insya Allah bebas resiko error pada saat digitalisasi 🙂

World Business Center

Nama depannya TOYOTA, saya ndak sempat tahu nama belakangnya karena datang terlambat sekitar 6 menit.
Toyota-san adalah staf personalia dari World Business Center,co.ltd. Menilik namanya saya sendiri sempat terkecoh karena mengira perusahaan itu adalah perusahaan dagang yang berskala internasional, tapi ternyata bukan.
WBC adalah perusahaan yang bergerak di bidang IT, didirikan pada tahun 1966 oleh Ikeda Tatsuo ketika beliau berumur 24 tahun. Pak Toyota bercerita panjang lebar tentang sejarah perusahaan dan terkesan bangga sekali dengan WBC, typical untuk pegawai pada perusahaan IT yang sudah tua dan mulai megap-megap di tengah persaingan ketat dunia IT. Tanpa memiliki nama besar yang mendunia dan dipaksa berhadapan dengan IT solution company raksasa macam Microsoft dengan Japan Microsoftnya, atau IBM dengan Japan IBMnya, memang tidak mudah bagi WBC untuk bertahan hingga selama ini. Kehebatan perusahaan ini sebenarnya bukan pada teknologinya, tapi kemampuan pemasarnya melihat niche market. Itulah sebabnya pada pamflet profil perusahaan terpampang dengan besar KAMI MEMBERIKAN LAYANAN TOTAL KEPADA SISTEM IT UNIVERSITAS DAN PUSAT-PUSAT PERAWATAN KESEHATAN. Jujur.
Ujian yang dilangsungkan dalam beberapa tahap di luar dugaan saya sangat sulit. Ternyata materinya bukan cuma tes psikologi biasa dengan deret2 angka dan gambarnya, tes yang ada hari ini mencakup juga pengetahuan umum (bagi orang Jepang). Jadi, hasilnya, saya puyeng 🙂
Kanji2 yg keluar memang masih setaraf level 1, bahkan ada beberapa soal yang masuk dalam kategori level 2 karena sering dipakai sehari-hari. Tapi tetap saja saya bengong ketika masuk di areal sejarah Jepang dengan sastranya 🙁
Mata saya cuma bersinar di bagian bahasa Ingrris, programming, komputer, pencocokan gambar, angka, soal cerita, dan pengetahuan2 ekonomi Jepang. Selebihnya redup dan sayu hehehehe….

Well, just have to wait for the announcement.

Tanoshimi ni shite imasu.