Saya masih memacu urat2 syaraf di dalam otak saya untuk menerjemahkan beberapa lembar surat pemberitahuan yang akan dikirim ke kenshusei ketika Matsumoto Bucho menghampiri dan berucap chotto, sanjuppun de yoroshii desu ka? Saya mengangguk dan berusaha membereskan surat pemberitahuan anzen taikai yg tergeletak di samping notebook di atas meja kerja lalu bergegas menyusul ke ruang tengah kantor IMM cabang Osaka.

Matsumoto-san adalah seorang mantan polisi dari polda Osaka yang khusus dipekerjakan untuk IMM Japan dalam menangani masalah2 hukum kenshusei. Karena beliau baru masuk tugas sejak bulan 4 lalu maka beliau belum banyak tahu tentang kenshusei, makanya beliau sering mengajak saya ngobrol tentang Indonesia dan kenshusei. Ngobrol dengan Bapak ini harus hati2 karena omongan yg salah bisa menggiring banyak gebrakan dari pihak kepolisian terhadap orang2 asing, terutama orang Indonesia.  Walaupun beliau sudah pensiun dari kepolisian, tetap saja dalam tugasnya di IMM akan selalu berhubungan dengan pihak berwajib itu. Makanya, ketimbang memberi pendapat dan informasi, saya biasanya berusaha membelokkan pembicaraan ke pengalaman saya pribadi, dan seringkali menolak jika diminta menganalisa kecuali jika saya merasa bahwa pendapat saya itu akan membawa hal yang baik bagi Indonesians.

Awalnya saya menduga beliau ingin ngobrol tentang Okayama Jiken (tertangkapnya 30 orang kenshusei Indonesia dgn paspor palsu), tapi ternyata beliau tidak tahu dan hanya ingin meminta pendapat saya tentang larinya 7 orang kenshusei di daerah Kansai pada bulan April hingga Mei ini.

Saya hanya tersenyum kecut ketika beliau mengungkapkan keprihatinan beliau tentang orang2 Indonesia itu. Akhirnya saya berusaha menjelaskan bahwa mencari penyebab larinya kenshusei harus melihat kasus per kasus.  Artinya, kalau ada 7 orang yg lari, terlebih dahulu dilihat, apakah perusahaannya sama, apakah asal daerahnya sama, apakah waktunya berdekatan. Jawaban yg saya peroleh adalah, dari 7 orang itu ada yg perusahaannya sama, ada yg bertiga dan ada juga yg berdua. Saya mengangguk-angguk sambil berusaha berpikir harus melihat dari sisi mana dulu.

Saya kemudian bertanya apakah di perusahaan ada masalah, dan jawabannya ternyata “tidak ada”, paling tidak menurut orang perusahaan tersebut. Pada kasus lari seperti ini biasanya memang ada latar belakangnya, baik itu karena hubungan kenshusei dan perusahaan yg kurang baik, atau hubungan kenshusei dgn orang2 yg ada di dalam perusahaan, ketidakpuasan kenshusei dgn gaji, lembur, atau fasilitas, ataukah memang kenshusei-nya yang tidak punya integritas dan amanah.

Ketika penyebabnya adalah karena adanya ketidakcocokan perusahaan atau orang di perusahaan, maka paling tidak IMM Japan bisa masuk sebagai penengah. Idealnya, IMM Japan akan mengambil posisi yang bisa mempertahankan kenshusei di perusahaan tapi dengan tidak merugikan hak kenshusei itu sendiri. Ironisnya, ketidaknetralan IMM Japan dalam berperan sebagai penengah ini kadang2 malah dijadikan alasan kenshusei untuk melarikan diri :) Padahal seharusnya sebagai kenshusei kita sadar bahwa tentu saja IMM akan berusaha mempertahankan status quo sebisa mungkin, kecuali kalau memang sudah melewati batas normal, maka barulah IMM akan mengambil tindakan keras. Itulah sebabnya, saya pribadi sejak kenshusei dulu sering sekali meng-encourage teman2 jika punya masalah, untuk berusaha menyelesaikannya sendiri, karena biar bagaimana pun perusahaan sebenarnya akan lebih mendengarkan kita sebagai orang dalam, ketimbang IMM Japan yg dianggap pihak luar. Tentu saja ini tergantung jenis perselisihan dan tergantung orangnya.

Terus terang selama bercakap-cakap dgn Matsumoto-san, saya merasa sedih, malu, dan sekaligus marah. Saya sedih dan malu karena mendengar ada orang Indonesia yang betul2 tidak tahu malu, tidak punya integritas, pengkhianat, dan sederet cap buruk yang bisa diberikan kepada orang2 yang telah menorehkan keburukan di mata tuan rumah ini. Rasa sedih dan malu itu seringkali berubah menjadi marah tapi sekaligus kasihan. Marah karena mereka telah berkhianat dan memberi cap buruk kepada kita semua orang Indonesia, termasuk anda! Sekaligus kasihan, kasihan karena mereka tidak tahu bahwa mereka meninggalkan sesuatu yang insya Allah baik dan beralih kepada ketidak-pastian, ketidak-amanan, ketidak-tenangan, dll. Dan yang terutama adalah, sejak mereka meninggalkan perusahaan dan mengingkari perjanjian yang telah mereka buat di Indonesia, sejak itu pula mereka mengais rejeki dalam status yg remang2.

Halalkah rejeki yg mereka kumpulkan? kalau ditanyakan kepada saya, maka saya akan menjawab TIDAK. Kenapa? sebab, modal utama bekerja di Jepang adalah keberadaan mereka di Jepang. Artinya, kalau seandainya mereka tidak ada di Jepang maka mereka tidak akan bisa bekerja di perusahaan yg sekarang. Padahal keberadaan mereka yang ilegal sudah jelas tidak halal karena menentang perintah Allah dan Rasul-Nya untuk mentaati pemerintah yg mengayomi mereka. Artinya, karena modal utama mereka bukan sesuatu yg halal, maka tentu saja semua hasil yg diperoleh dari modal itu juga bisa dikategorikan tidak halal.

Kalau misalnya ada orang yang buka warung di atas tanah yang diserobot dari pemilik yang hak, apakah menurut anda keuntungan yang diperolehnya itu halal walaupun barang dagangannya dibeli dengan uang yg halal?

Wallahu a’lam bis showab.

Terakhir Matsumoto-san bertanya tentang pendapat saya ttg bagaimana cara mencegah kenshusei lari, saya tersenyum dan mengatakan bahwa persoalan ini bukan sebuah masalah sederhana yg bisa diselesaikan oleh satu pihak. Persoalan ini multi dimensi sehingga harus dipikirkan sejak dari perekrutan di Indonesia hingga  berada di Jepang. Jika IMM Japan betul2 ingin menuntaskan masalah ini maka ada segunung hal2 yg harus diselesaikan, mulai dari pembersihan sistem rekrut yg sudah sangat kotor oleh sogok-menyogok di Indonesia, hingga rethinking tentang program pasca magang. Matsumoto-san mengangguk-angguk entah mengerti dan peduli atau tidak.

Saya akhirnya kembali ke meja kerja dan tenggelam dalam huruf2 cacing yg berisi surat pemberitahuan tentang main ice skating di Shiga Kenritsu Ice Arena pada acara anzen taikai 2007  bagi kenshusei Shiga, Kyoto, dan Nara tanggal 24 Juni mendatang. Tanoshimi ni shite ne