Tempat Pembuangan Bayi

Mendengar judul di atas anda pasti bergidik, kok sadis amat? Tapi itulah kenyataan yang sedang menjadi perbincangan hangat di media massa Jepang. Di bawah ini adalah berita yang bisa anda baca di Japan Today : 

——————————————————

KUMAMOTO — Japan’s first baby hatch began operating Thursday in Kumamoto to enable people to anonymously leave babies there. The hatch, called “konotori no yurikago” (stork cradle), began operating at noon Thursday at Jikei Hospital. The project is controversial, as opponents argue that it may encourage people to abandon babies, while supporters view it as a means of saving the lives of infants.
Taiji Hasuda, president of the medical corporation operating the hospital, said he is happy but feels nervous at the same time. “I’d like to see the baby hatch develop into a window for beleaguered people. I know there may be pros and cons. But what is most important is to save the lives of babies,” said Hasuda. In Tokyo, Prime Minister Shinzo Abe remained critical of the baby hatch concept, telling reporters he wants to see parents first consult government or local administrative authorities before dropping off their babies anonymously.

Source : http://www.japantoday.com/jp/news/406342
——————————————————

Yang pro dengan fasilitas ini beranggapan bahwa dengan adanya tempat seperti ini maka ibu2 yg “terpaksa” melahirkan anak2 yg tidak diinginkan bisa memberikan anaknya tanpa perlu ketahuan identitasnya. Yang kontra berpendapat bahwa dengan adanya fasilitas seperti ini maka jumlah bayi2 tak ber-orang tua akan semakin bertambah. Berita ini juga sedang hangat2nya dibahas di TV2 Jepang.

Sebenarnya yang membuat permasalahan ini disoroti adalah karena adanya usaha beberapa pihak untuk menjadikan perihal ini legal secara hukum. Dan sebagai hasilnya adalah, seperti berita di atas, Prefektur Kumamoto sudah mensahkannya dengan undang-undang.

Inilah potret masyarakat Jepang yang sudah semakin parah. Kebingungan mereka menghadapi masalah2 sosial seperti prostitusi dan hamil di luar nikah membuat mereka kalang kabut mencari penyelesaian sesaat. Seandainya moral mereka berdasarkan agama maka mungkin akan ada banyak persoalan yang bisa dipecahkan dari akarnya. Mereka bukannya berpikir bagaimana caranya supaya prostitusi dan hamil di luar nikah itu berkurang, mereka malah berpikir bagaimana caranya supaya pembuangan anak hasil hubungan gelap secara “serampangan” menjadi berkurang dengan cara membuang anak2 tak berdosa itu di “pembuangan resmi”.

Bagaimana nantinya sebuah masyarakat yang sebagian terdiri dari orang2 yang dulunya “dibuang” dan tak diinginkan oleh orang tuanya? Entahlah. Inilah Jepang.