Archive for May 2007

PPI Kansai Garuda Online Ticketing

Akhirnya hari ini saya meluncurkan website untuk online ticketing yang dikelola oleh PPI Kansai dan diperuntukkan bagi orang Indonesia di Jepang bagian barat. Alamat websitenya adalah http://garuda.ppi-kansai.net

Sebenarnya materi pemrograman tidak terlalu rumit seperti anaknegri.com yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas otomatis dan verifikasi berdasarkan negara, wilayah, dan IP. Website untuk PPI Kansai ini lebih sederhana karena hanya membutuhkan verifikasi di pemesanan, sistem login, dan administrasinya. Hanya saja karena ini menyangkut duit secara langsung maka perlu kehati-hatian ekstra. Apalagi website ini juga mengemban nama PPI Jepang Korda Kansai dan Garuda Indonesia cabang Osaka. Jadi kalau ada masalah maka merembetnya kemana-mana.

Awalnya server yg akan dipakai adalah Yahoo Geocities, tapi karena banyaknya restriksi yg diberlakukan oleh Yahoo! maka akan ada banyak fasilitas2 PHP yg tak bisa digunakan. Padahal saya bermaksud membuat otomatisasi sistem dengan benar2 otomatis yg hanya melibatkan mata manusia satu kali pada saat verifikasi data, selebihnya akan dilakukan oleh sistem itu sendiri. Yahoo mungkin tidak ingin ambil resiko dengan membuka fungsi2 seperti FTP by script, multybite, customized mailer function, dll. Tapi akibatnya bagi pemrogram yg ingin berkreasi, batasan2 itu sangat menganggu. Akhirnya sebagai jalan keluarnya saya menggunakan server anaknegri untuk melakukan tugas yg tak ter-cover di Yahoo. Dan dgn sedikit trik, saya menyembunyikan nama anaknegri.com supaya yg tampil di layar browser tetap ppi-kansai.net, penggunaan nama ppi-kansai.net ini sesuai dengan komitmen saya untuk membangun jaringan di dalam naungan PPI Kansai, bukan di bawah nama bendera saya, anaknegri.com. Mudah2an teman2 pengurus PPI Kansai bisa secepatnya mengambil keputusan untuk meilih server yg akan digunakan supaya saya bisa memindahkan seluruh sistem ke server milik PPI Kansai sendiri dan tidak membebani server anaknegri.com dan sekaligus tidak membebani pikiran saya 🙂

Pada awalnya sempat terpikir untuk mengajukan referred server, artinya kalau server itu dipilih maka saya akan mendapat bonus dari perusahaan tersebut. Tapi setelah saya pikir2 ulang, maka saya mengurungkan niat karena khawatir perhitungannya akan rumit nanti. Masih baik kalau perhitungannya menguntungkan saya, kalau ternyata perhitungan menunjukkan saya rugi, maka penyesalan abadilah yang ada. Yang saya maksud dengan “perhitungan” itu adalah, perhitungan di hari perhitungan. Anda pikir saya sok idealis? 🙂 Terserah, yang jelas saya masih lebih memilih dikatai sok idealis  daripada menderita kerugian, nanti.

website itu masih belum sempurna karena artikel2nya sebagian besar belum masuk, tapi paling tidak sudah bisa dipakai untuk stimulasi harga dan sekaligus memesan tiket. Mudah2an dalam 1 bulan ini semua sistem yg saya rancang bisa digunakan supaya teman2 Indonesia bisa memesan tiket Garuda dengan lebih mudah.

Iklan agh….

————————————————————————

Pulang ke Indonesia? Terbanglah bersama Garuda Indonesia.

Dapatkan tiket murahnya di http://garuda.ppikansai.net !!

———————————————————————— 

Ilegal, prihatin.

Saya masih memacuurat2 syarafdi dalam otak saya untuk menerjemahkan beberapa lembar surat pemberitahuan yang akan dikirim ke kenshusei ketika Matsumoto Bucho menghampiri dan berucap chotto, sanjuppun de yoroshii desu ka? Saya mengangguk dan berusaha membereskan surat pemberitahuan anzen taikai yg tergeletak di samping notebook di atas meja kerja lalu bergegas menyusul ke ruang tengah kantor IMM cabang Osaka.

Matsumoto-san adalah seorang mantan polisi dari polda Osaka yang khusus dipekerjakan untuk IMM Japan dalam menangani masalah2 hukum kenshusei. Karena beliau baru masuk tugas sejak bulan 4 lalu maka beliau belum banyak tahu tentang kenshusei, makanya beliau sering mengajak saya ngobrol tentang Indonesia dan kenshusei. Ngobrol dengan Bapak ini harus hati2 karena omongan yg salah bisa menggiring banyak gebrakan dari pihak kepolisian terhadap orang2 asing, terutama orang Indonesia.  Walaupun beliau sudah pensiun dari kepolisian, tetap saja dalam tugasnya di IMM akan selalu berhubungan dengan pihak berwajib itu. Makanya, ketimbang memberi pendapat dan informasi, saya biasanya berusaha membelokkan pembicaraan ke pengalaman saya pribadi, dan seringkali menolak jika diminta menganalisa kecuali jika saya merasa bahwa pendapat saya itu akan membawa hal yang baik bagi Indonesians.

Awalnya saya menduga beliau ingin ngobrol tentang Okayama Jiken (tertangkapnya 30 orang kenshusei Indonesia dgn paspor palsu), tapi ternyata beliau tidak tahu dan hanya ingin meminta pendapat saya tentang larinya 7 orang kenshusei di daerah Kansai pada bulan April hingga Mei ini.

Saya hanya tersenyum kecut ketika beliau mengungkapkan keprihatinan beliau tentang orang2 Indonesia itu. Akhirnya saya berusaha menjelaskan bahwa mencari penyebab larinya kenshusei harus melihat kasus per kasus.  Artinya, kalau ada 7 orang yg lari, terlebih dahulu dilihat, apakah perusahaannya sama, apakah asal daerahnya sama, apakah waktunya berdekatan. Jawaban yg saya peroleh adalah, dari 7 orang itu ada yg perusahaannya sama, ada yg bertiga dan ada juga yg berdua. Saya mengangguk-angguk sambil berusaha berpikir harus melihat dari sisi mana dulu.

Saya kemudian bertanya apakah di perusahaan ada masalah, dan jawabannya ternyata “tidak ada”, paling tidak menurut orang perusahaan tersebut. Pada kasus lari seperti ini biasanya memang ada latar belakangnya, baik itu karena hubungan kenshusei dan perusahaan yg kurang baik, atau hubungan kenshusei dgn orang2 yg ada di dalam perusahaan, ketidakpuasan kenshusei dgn gaji, lembur, atau fasilitas, ataukah memang kenshusei-nya yang tidak punya integritas dan amanah.

Ketika penyebabnya adalah karena adanya ketidakcocokan perusahaan atau orang di perusahaan, maka paling tidak IMM Japan bisa masuk sebagai penengah. Idealnya, IMM Japan akan mengambil posisi yang bisa mempertahankan kenshusei di perusahaan tapi dengan tidak merugikan hak kenshusei itu sendiri. Ironisnya, ketidaknetralan IMM Japan dalam berperan sebagai penengah ini kadang2 malah dijadikan alasan kenshusei untuk melarikan diri 🙂 Padahal seharusnya sebagai kenshusei kita sadar bahwa tentu saja IMM akan berusaha mempertahankan status quo sebisa mungkin, kecuali kalau memang sudah melewati batas normal, maka barulah IMM akan mengambil tindakan keras. Itulah sebabnya, saya pribadi sejak kenshusei dulu sering sekali meng-encourage teman2 jika punya masalah, untuk berusaha menyelesaikannya sendiri, karena biar bagaimana pun perusahaan sebenarnya akan lebih mendengarkan kita sebagai orang dalam, ketimbang IMM Japan yg dianggap pihak luar. Tentu saja ini tergantung jenis perselisihan dan tergantung orangnya.

Terus terang selama bercakap-cakap dgn Matsumoto-san, saya merasa sedih, malu, dan sekaligus marah. Saya sedih dan malu karena mendengar ada orang Indonesia yang betul2 tidak tahu malu, tidak punya integritas, pengkhianat, dan sederet cap buruk yang bisa diberikan kepada orang2 yang telah menorehkan keburukan di mata tuan rumah ini. Rasa sedih dan malu itu seringkali berubah menjadi marah tapi sekaligus kasihan. Marah karena mereka telah berkhianat dan memberi cap buruk kepada kita semua orang Indonesia, termasuk anda! Sekaligus kasihan, kasihan karena mereka tidak tahu bahwa mereka meninggalkan sesuatu yang insya Allah baik dan beralih kepada ketidak-pastian, ketidak-amanan, ketidak-tenangan, dll. Dan yang terutama adalah, sejak mereka meninggalkan perusahaan dan mengingkari perjanjian yang telah mereka buat di Indonesia, sejak itu pula mereka mengais rejeki dalam status yg remang2.

Halalkah rejeki yg mereka kumpulkan? kalau ditanyakan kepada saya, maka saya akan menjawab TIDAK. Kenapa? sebab, modal utama bekerja di Jepang adalah keberadaan mereka di Jepang. Artinya, kalau seandainya mereka tidak ada di Jepang maka mereka tidak akan bisa bekerja di perusahaan yg sekarang. Padahal keberadaan mereka yang ilegal sudah jelas tidak halal karena menentang perintah Allah dan Rasul-Nya untuk mentaati pemerintah yg mengayomi mereka. Artinya, karena modal utama mereka bukan sesuatu yg halal, maka tentu saja semua hasil yg diperoleh dari modal itu juga bisa dikategorikan tidak halal.

Kalau misalnya ada orang yang buka warung di atas tanah yang diserobot dari pemilik yang hak, apakah menurut anda keuntungan yang diperolehnya itu halal walaupun barang dagangannya dibeli dengan uang yg halal?

Wallahu a’lam bis showab.

Terakhir Matsumoto-san bertanya tentang pendapat saya ttg bagaimana cara mencegah kenshusei lari, saya tersenyum dan mengatakan bahwa persoalan ini bukan sebuah masalah sederhana yg bisa diselesaikan oleh satu pihak. Persoalan ini multi dimensi sehingga harus dipikirkan sejak dari perekrutan di Indonesia hingga  berada di Jepang. Jika IMM Japan betul2 ingin menuntaskan masalah ini maka ada segunung hal2 yg harus diselesaikan, mulai dari pembersihan sistem rekrut yg sudah sangat kotor oleh sogok-menyogok di Indonesia, hingga rethinking tentang program pasca magang. Matsumoto-san mengangguk-angguk entah mengerti dan peduli atau tidak.

Saya akhirnya kembali ke meja kerja dan tenggelam dalam huruf2 cacing yg berisi surat pemberitahuan tentang main ice skating di Shiga Kenritsu Ice Arena pada acara anzen taikai 2007  bagi kenshusei Shiga, Kyoto, dan Nara tanggal 24 Juni mendatang. Tanoshimi ni shite ne

Tempat Pembuangan Bayi

Mendengar judul di atas anda pasti bergidik, kok sadis amat? Tapi itulah kenyataan yang sedang menjadi perbincangan hangat di media massa Jepang. Di bawah ini adalah berita yang bisa anda baca di Japan Today : 

——————————————————

KUMAMOTO — Japan’s first baby hatch began operating Thursday in Kumamoto to enable people to anonymously leave babies there. The hatch, called “konotori no yurikago” (stork cradle), began operating at noon Thursday at Jikei Hospital. The project is controversial, as opponents argue that it may encourage people to abandon babies, while supporters view it as a means of saving the lives of infants.
Taiji Hasuda, president of the medical corporation operating the hospital, said he is happy but feels nervous at the same time. “I’d like to see the baby hatch develop into a window for beleaguered people. I know there may be pros and cons. But what is most important is to save the lives of babies,” said Hasuda. In Tokyo, Prime Minister Shinzo Abe remained critical of the baby hatch concept, telling reporters he wants to see parents first consult government or local administrative authorities before dropping off their babies anonymously.

Source : http://www.japantoday.com/jp/news/406342
——————————————————

Yang pro dengan fasilitas ini beranggapan bahwa dengan adanya tempat seperti ini maka ibu2 yg “terpaksa” melahirkan anak2 yg tidak diinginkan bisa memberikan anaknya tanpa perlu ketahuan identitasnya. Yang kontra berpendapat bahwa dengan adanya fasilitas seperti ini maka jumlah bayi2 tak ber-orang tua akan semakin bertambah. Berita ini juga sedang hangat2nya dibahas di TV2 Jepang.

Sebenarnya yang membuat permasalahan ini disoroti adalah karena adanya usaha beberapa pihak untuk menjadikan perihal ini legal secara hukum. Dan sebagai hasilnya adalah, seperti berita di atas, Prefektur Kumamoto sudah mensahkannya dengan undang-undang.

Inilah potret masyarakat Jepang yang sudah semakin parah. Kebingungan mereka menghadapi masalah2 sosial seperti prostitusi dan hamil di luar nikah membuat mereka kalang kabut mencari penyelesaian sesaat. Seandainya moral mereka berdasarkan agama maka mungkin akan ada banyak persoalan yang bisa dipecahkan dari akarnya. Mereka bukannya berpikir bagaimana caranya supaya prostitusi dan hamil di luar nikah itu berkurang, mereka malah berpikir bagaimana caranya supaya pembuangan anak hasil hubungan gelap secara “serampangan” menjadi berkurang dengan cara membuang anak2 tak berdosa itu di “pembuangan resmi”.

Bagaimana nantinya sebuah masyarakat yang sebagian terdiri dari orang2 yang dulunya “dibuang” dan tak diinginkan oleh orang tuanya? Entahlah. Inilah Jepang.