Peringatan

Seringkali kita sebagai manusia terhanyut oleh arus kehidupan yang mengalir tanpa kenal henti. Dari detik berpindah ke menit, dari menit bergeser ke jam, lalu ke hari, bulan, dan tahun.
Bulan ini yang seharusnya mnejadi bulan libur karena kegiatan perkuliahan yang tidak ada malah menjadi bulan sibuk bagi saya. Awal bulan saya stand by di Aioi selama satu hari penuh, pertengahan bulan ini sempat nginap di sekitar bandara Kansai untuk bagi formulir pajak nenkin bagi yang pulang, dan kemarin plus hari ini kudu berangkat pagi-pagi ke Kyoto untuk menemani teman2 kenshusei yang sedang belajar Fork Lift di Hitachi Kyoushuusho.
Tapi alhamdulillah, pertemuan dengan teman2 kenshusei itu banyak membawa hal-hal positif karena beroleh informasi dan berita yang beragam.

Dari salah seorang kenshusei yang daftar di Jakarta bernama Sarnoto saya mendengar berita bahwa sistem ujian masuk bagi kenshusei ternyata sudah semakin sulit karena ditambahnya mata ujian matematika dan hiragana/katakana. Dan juga masa pelatihan yang sebelumnya full boarded menjadi semi boarded alias tidak diasramakan selama 3 bulan penuh. Menurut Sartono, kenshusei saat ini punya masa pelatihan 4 bulan, 2 bulannya adalah masa pelatihan mandiri dengan sistem datang, belajar, dan pulang seperti layaknya mahasiswa. Lalu 2 bulannya lagi seperti biasa, mondok di BLKI. Entah apa tujuan IMM Japan Indonesia memberlakukan sistem ini, tapi yang jelas sistem ini akan sangat membantu mengurangi biaya sehingga kenshusei Indonesia bisa ′dijual′ dengan harga yang lebih bersaing dengan negara lain.

Ada satu berita yang membuat sedih dan sekaligus menyentakkan kesadaran saya pribadi.

Sewaktu istirahat siang seorang kenshusei mendekati saya sambil bertanya “bang Arif ya?”. Wajah kenshusei itu sepertinya pernah saya kenal, dan ternyata saya tidak salah duga karena dia adalah adik dari salah seorang teman kenshusei satu angkatan dulu yang berasal dari Medan tapi daftar di Bandung bernama Rudi.
Tapi, alih-alih mendengar berita baik, yang disampaikan Sahril, adik Rudi itu, malah yang harus saya dengar adalah berita sedih karena Rudi dikabarkan masuk rumah sakit akibat sakit ginjal dan mesti menjalani cuci darah di RSCM. Saya cukup tersentak karena terakhir kali kontak Rudi bercerita kalau dia sudah beroleh pekerjaan yang cukup bagus sebagai penterjemah di sebuah perusahaan Jepang bernama PT.Kawai nan to ka.
Semasa magang Rudi terlihat selalu sehat karena postur tubuh yang cukup kekar dan kesehatan yang terlihat terjaga. Dan ditambah dengan beban pekerjaan yang sepintas lalu tidak memerlukan banyak tekanan batin 🙂 seharusnya dia sudah bisa hidup senang. Tapi ternyata Allah masih berkehendak memberi cobaan berupa sakit yang cukup berat. Semoga beliau cepat sembuh, amin.

Berita ini menyentakkan sebuah kesadaran saya betapa rapuhnya hidup seorang manusia dan betapa terbatasnya daya kita sebagai makhluk Allah yang hanya serba fana. Kesadaran ini juga mengingatkan saya untuk mulai menjaga kesehatan jika tidak ingin kesehatan itu berganti menjadi sakit. Selama 6 tahun terakhir ini sejak menjadi kenshusei, saya memang nyaris tidak memperdulikan batas maksimal daya tahan tubuh. Ada masa-masa saya hanya tidur kurang dari 4 jam dalam sehari, bahkan kadang2 saya hanya mengistirahatkan otak hanya dalam hitungan kurang lebih 2 jam.
Selalu ada tuntutan dari dalam diri saya untuk terus berkarya dan berkarya sehingga seringkali tuntutan mata dan otak yang sudah capai pun saya abaikan.

Insya Allah, mulai hari ini saya berjanji kepada diri saya sendiri untuk lebih bijaksana dalam berbagi. saya jadi teringat nasehat Rasulullah SAW untuk memanfaatkan beberapa perkara sebelum datang perkara lainnya, salah satunya dalah “masa sehat” sebelum datang “masa sakit”. Mari menghargai sehat sebelum ia pergi dan berganti menjadi sakit.

Semoga Rudi bisa sembuh dan sehat seperti sediakala lagi, amin. Bersediakah anda ikut mendoakannya? Jazaakumullah khaeran katsiran. Semoga Allah pun selalu berkenan memberi anda kesehatan, amin.

3 comments

  1. Arif(tamu) says:

    Betul mas, tapi kebanyakan dari kita sadar setelah jatuh sakit dsb, saya juga akhir-akhir ini sering begadang sampe pagi, trims atas "peringatan" nya, untuk kita semua.

  2. Aryo(tamu) says:

    Benar juga mas, namanya kesehatan itu hal yg sangat mahal kl kita lagi ga punya, tp kl kita lagi sehat, kita terlalu menggampankannya.

    oh ya mas Arif (2-2nya), kalo pelatihan di asrama setelah lolos test seleksi, biaya asrama di tanggung kita apa oleh IMM?

    Kira2, berapa ya biaya yang harus kita siapkan untuk seleksi Kenshu di Indonesia, dari awal seleksi sampai berangkat?

    Kalau sudah di jepang, misal kita selesai kenshu mau kuliah di jepang, berapa biaya yang harus ktia kumpulkan/siapkan, misal saya mau ambil sastra jepang modern. berapa % dr uang saku yang harus kita tabung untuk persiapan tersebut?

    makasih banyak sebelumnya 🙂

  3. Aryo lagi(tamu) says:

    Oh ya mas, kl misal aku boleh minta tolong lagi neh, gimana kalo mas2 yang udah berangkat, ngasi tulisan tentang prosedur ikut kenshu, soalnya yg ada di web disnakertrans kurang lengkap.

    misal dari syarat2, prosedur ujian, tips2 untuk bisa lolos, prosedur pengiriman, sama biaya2 yang perlu di keluarkan selama seleksi, jadi kita bisa lebih siap, baik mental, fisik, dan juga tentunya biaya.

    makasih banyak mas sebelumnya, maaf kalau merepotkan 🙂

%d bloggers like this: