Archive for February 2007

Saya

Minggu malam
Listrik mati
Puskesmas panik
Seorang Ibu mengerang
Sesosok bayi lahir
Itulah saya

Telanjang
Tanpa sehelai benang
Tanpa sekeping emas
Tanpa secuil jabatan
Dan tentu saja tanpa sebuah gelar

…………….

Dunia gelap
Malaikat menatap
Kering tenggorokan
Sakit terasa
Kosong menyambut
Maut menjemput

Sendiri
Sepi
Senyap
Tanpa berlembar-lembar rupiah
Tanpa secuil jabatan
Dan tentu saja tanpa sebuah gelar

Yang menemaniku hanya nyanyian amal baik
Yang menghibur menemani sepiku
Menanti hari perhitunganku

Astagfirullahul adzim

Kobe, penghujung musim dingin 2007

—————————————————————————————

Coretan ini tertulis ketika suatu hari saya membuka email di milis almamater saya. Di salah satu pengirim email tertulis dengan jelas nama seorang adik angkatan yang kebetulan diberi amanah menjadi pelayan masyarakat di daerah Timur Indonesia.

Yang membuat saya tertawa adalah kelakuan adik kelas itu yang menulis namanya lengkap dengan jabatan dan gelar masternya.

Di dunia internasional, terutama di Jepang, orang tidak akan menuliskan gelar akademiknya di email yg dikirim atau pada saat menyebut nama sendiri, kecuali bagi mereka yang profesinya adalah dokter atau hal-hal yang betul-betul depending on customers’ trust.

Sehari setelah tulisan di atas saya upload di milis, muncul lagi sebuah email dengan topik yang berbeda, dan lagi-lagi saya tertawa karena pengirimnya dengan gagahnya mencantumkan nama beserta gelar militer dan tempatnya bertugas yang kebetulan di negara tetangga.

Ah, memang banyak yang lucu di dunia ini. Orang2 yg saya kenal sebagai lulusan Doctor atau bahkan Post Doctor dari universitas ternama semacam Kobe University malah jarang yang mencantumkan gelar. Padahal karya ybs sudah meng-internasional dan dipakai sebagai rujukan media massa atau bahkan mungkin dosen yang memberi kuliah graduate kepada adik kelas saya itu 🙂 Tanpa bermaksud mengecilkan arti gelar adik kelas saya itu, tapi saya rasa tidaklah santun untuk mencantumkan nama di email yang dikirim kepada milis almamater sekolah.

Peringatan

Seringkali kita sebagai manusia terhanyut oleh arus kehidupan yang mengalir tanpa kenal henti. Dari detik berpindah ke menit, dari menit bergeser ke jam, lalu ke hari, bulan, dan tahun.
Bulan ini yang seharusnya mnejadi bulan libur karena kegiatan perkuliahan yang tidak ada malah menjadi bulan sibuk bagi saya. Awal bulan saya stand by di Aioi selama satu hari penuh, pertengahan bulan ini sempat nginap di sekitar bandara Kansai untuk bagi formulir pajak nenkin bagi yang pulang, dan kemarin plus hari ini kudu berangkat pagi-pagi ke Kyoto untuk menemani teman2 kenshusei yang sedang belajar Fork Lift di Hitachi Kyoushuusho.
Tapi alhamdulillah, pertemuan dengan teman2 kenshusei itu banyak membawa hal-hal positif karena beroleh informasi dan berita yang beragam.

Dari salah seorang kenshusei yang daftar di Jakarta bernama Sarnoto saya mendengar berita bahwa sistem ujian masuk bagi kenshusei ternyata sudah semakin sulit karena ditambahnya mata ujian matematika dan hiragana/katakana. Dan juga masa pelatihan yang sebelumnya full boarded menjadi semi boarded alias tidak diasramakan selama 3 bulan penuh. Menurut Sartono, kenshusei saat ini punya masa pelatihan 4 bulan, 2 bulannya adalah masa pelatihan mandiri dengan sistem datang, belajar, dan pulang seperti layaknya mahasiswa. Lalu 2 bulannya lagi seperti biasa, mondok di BLKI. Entah apa tujuan IMM Japan Indonesia memberlakukan sistem ini, tapi yang jelas sistem ini akan sangat membantu mengurangi biaya sehingga kenshusei Indonesia bisa ′dijual′ dengan harga yang lebih bersaing dengan negara lain.

Ada satu berita yang membuat sedih dan sekaligus menyentakkan kesadaran saya pribadi.

Sewaktu istirahat siang seorang kenshusei mendekati saya sambil bertanya “bang Arif ya?”. Wajah kenshusei itu sepertinya pernah saya kenal, dan ternyata saya tidak salah duga karena dia adalah adik dari salah seorang teman kenshusei satu angkatan dulu yang berasal dari Medan tapi daftar di Bandung bernama Rudi.
Tapi, alih-alih mendengar berita baik, yang disampaikan Sahril, adik Rudi itu, malah yang harus saya dengar adalah berita sedih karena Rudi dikabarkan masuk rumah sakit akibat sakit ginjal dan mesti menjalani cuci darah di RSCM. Saya cukup tersentak karena terakhir kali kontak Rudi bercerita kalau dia sudah beroleh pekerjaan yang cukup bagus sebagai penterjemah di sebuah perusahaan Jepang bernama PT.Kawai nan to ka.
Semasa magang Rudi terlihat selalu sehat karena postur tubuh yang cukup kekar dan kesehatan yang terlihat terjaga. Dan ditambah dengan beban pekerjaan yang sepintas lalu tidak memerlukan banyak tekanan batin 🙂 seharusnya dia sudah bisa hidup senang. Tapi ternyata Allah masih berkehendak memberi cobaan berupa sakit yang cukup berat. Semoga beliau cepat sembuh, amin.

Berita ini menyentakkan sebuah kesadaran saya betapa rapuhnya hidup seorang manusia dan betapa terbatasnya daya kita sebagai makhluk Allah yang hanya serba fana. Kesadaran ini juga mengingatkan saya untuk mulai menjaga kesehatan jika tidak ingin kesehatan itu berganti menjadi sakit. Selama 6 tahun terakhir ini sejak menjadi kenshusei, saya memang nyaris tidak memperdulikan batas maksimal daya tahan tubuh. Ada masa-masa saya hanya tidur kurang dari 4 jam dalam sehari, bahkan kadang2 saya hanya mengistirahatkan otak hanya dalam hitungan kurang lebih 2 jam.
Selalu ada tuntutan dari dalam diri saya untuk terus berkarya dan berkarya sehingga seringkali tuntutan mata dan otak yang sudah capai pun saya abaikan.

Insya Allah, mulai hari ini saya berjanji kepada diri saya sendiri untuk lebih bijaksana dalam berbagi. saya jadi teringat nasehat Rasulullah SAW untuk memanfaatkan beberapa perkara sebelum datang perkara lainnya, salah satunya dalah “masa sehat” sebelum datang “masa sakit”. Mari menghargai sehat sebelum ia pergi dan berganti menjadi sakit.

Semoga Rudi bisa sembuh dan sehat seperti sediakala lagi, amin. Bersediakah anda ikut mendoakannya? Jazaakumullah khaeran katsiran. Semoga Allah pun selalu berkenan memberi anda kesehatan, amin.

Suku Bunga NichiGin

Hari ini gubernur bank Jepang mengumumkan kenaikan suku bunga NichiGinko (Bank of Japan) menjadi sebesar 0.5% pertahun. Kenaikan ditanggapi cukup hangat karena 7 bulan sebelumnya NichiGin sudah mendongkrak suku bunga yang sebelumnya berada pada angka 2 digit di belakang koma menjadi 0.25% pertahun.

Lantas apa artinya bagi kita?
Coba kita lihat dari segi untung dan ruginya dulu bagi orang jepang.

Dengan naiknya suku bunga NichiGin, denga mudah orang akan mengatakan bahwa para senior citizen atau orang2 tua yang hidup dari nenkin akan mendapat keuntungan karena jumlah dana yang mereka terima akan naik. Jika dihitung secara total, pemerintah Jepang memang akan mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk menalangi dana pensiunan warga negaranya yang sekarang ini kurvanya semakin berbentuk kerucut terbalik (yang tua semakin banyak, yang muda semakin berkurang).
Tapi jika dilihat secara orang perorang sebenarnya kenaikan suku bunga ini tidak terasa karena dana yang diterima tidaklah terlalu besar bagi penerima pensiunan.
Sehingga bisa disimpulkan, kenaikan suku bunga ini tidak terasa langsung oleh warga negara secara umumnya.

Lalu apa kerugiannya bagi warga negara?
Kenaikan suku bunga bank sentral ini secara otomatis akan berdampak sangat luas kepada orang-orang yang selama ini mempunyai loan (pinjaman) perumahan dengan bunga tak tetap, dan yang pasti akan memukul telak pengusaha-pengusaha kecil dan menengah yang meminjam uang dari bank sebagai modal usaha. Jumlah bunga yang harus mereka kembalikan akan dikalikan dua mulai bulan depan.

Lantas apa efeknya bagi orang Indonesia?

Yang pertama, kenaikan suku bunga ini secara otomatis akan mempengaruhi lini produksi yang banyak bergantung pada pengusaha kecil dan menengah, dan sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya banyak memperoleh modal usaha dari pinjaman bank. Dengan naiknya beban finansial, bukan hal yang aneh kalau perusahaan akan mencari jalan aman dengan menaikkan harga dasar barang hasil produksi mereka. Mata rantai ini akan berujung pada kenaikan harga barang-barang konsumsi. Dan tentu saja, ini akan berakibat kepada kita orang Indonesia yang tinggal di Jepang ini, harga kebutuhan pokok akan meninggi.

Yang kedua, dengan menaiknya suku bunga bank sentral Jepang, maka secara otomatis suku bunga pinjaman pemerintah Indonesia kepada pemerintah jepang akan mengikut pula. Dan karena Jepang adalah negara pemberi pinjaman papan atas bagi negara kita, maka hal ini akan berdampak hebat. Kenaikan 0.25% kalau dikalikan 1 milyar yen saja sudah menambah beban 2,5 juta yen pada APBN kita. Padahal hutang kita kepada Jepang bukan hitungan milyar 🙂

Dengan naiknya suku bunga ini sedikit banyak akan berdampak pada seretnya aliran investasi langsung ke negara lain karena secara teori orang akan lebih menyukai menyimpan dana di bank dengan bunga yang aman daripada investasi yang belum tentu menguntungkan. Lagi-lagi kondisi ini akan buruk dampaknya bagi kita karena Jepang adalah negara investor terbesar ketiga setelah Korea Selatan dan Singapura (BKPM 30 April 2003). Berkurangnya investasi yang keluar dari Jepang berarti berkurangnya investasi masuk ke negara kita.

Apa sebenarnya yang diincar oleh NichiGin sebagai penjaga gawang ekonomi Jepang?
Tampaknya memang langkah ini sudah merupakan strategi besar untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam jangka panjang. Ini tercermin dari komentar gubernur NichiGin Mr.Fukui yang secara gamblang menyebutkan bahwa langkah menaikkan suku bunga ini akan dilakukan secara bertahap. Dari pernyataan beliau sudah jelas bahwa kenaikan bunga hari ini bukan yang terakhir, dan masih akan berlanjut. Sampai nilai berapa? Masih rahasia 🙂

Secara makro, kenaikan suku bunga ini akan membawa beberapa kebaikan bagi Jepang.
Yang pertama, dengan terjadinya kenaikan barang berarti akan menekan nilai deflasi yang merupakan PR terberat bagi ekonom negara sakura ini. Berbeda dengan negara kita yang (mungkin) belum pernah deflasi karena inflasi melulu 🙂
Yang kedua, dengan naiknya suku bunga ini mungkin diharapkan adanya modal yang flying back ke Jepang.

Tapi apa sebenarnya yang diincar oleh tim Mr.Fukui? Apakah ini ada kaitannya dengan tekanan anggota G8 lainnya supaya Jepang mengintervensi pasar agar nilai yen kembali naik? Kita lihat saja langkah NichiGin selanjutnya.