Archive for December 2006

a cup of coffee

It is 2:58 dawn in the morning. A cup of coffee has run down my throat but still gives no effect. My eyes are too heavy. I try to keep awake by setting earphone and let the PETER PAN fill my head.

5 years ago nights are my busy time, and I usually was succesful to keep brain and eyes brightly until the dawn rises. Lately, probably because the new rhytim of my life, I am getting tired easily. Is this just age or the pattern of my life changes? :nyengir: I hope it is just the pattern.

Some improvements in AN have been achieved. I almost accomplish the updating of login, logout, profiles, and some basic gate to the new version of AN. Some background tools like "waktu sholat" alarm and automatic mail-reader script have been ready to activate. I hope I can finish in this winter vacation and re-launch before Idul Adha.

Stretching my legs and thinking again, do I need another cup of coffee or just run to the bed now 🙂

Penantian 22 bulan

Hari ini alhamdulillah Suzuki sensei berhasil lagi menyelesaikan 82 kasus. Yang unik, salah satu dari aplikasi itu ada yang sudah masuk sejak bulan Januari 2005. Dokumen pemohon itu berkali-kali ditolak oleh kantor pajak dengan alasan alamat yang tertera tidak sesuai dengan database. Tentu saja kami kebingungan dibuatnya karena alamat yang tertera ya segitu-gitunya. Akhirnya kami berusaha mengontak pemohon klaim, dan barulah bulan November tahun ini kami mendapat balasan dari yang bersangkutan. Alhamdulillah dalam sebulan setelah data lengkap akhirnya dana bisa turun.

Memang benar kata orang, kalau memang rejeki tidak akan meleset. Yah, walaupun pemohon itu harus menunggu selama 22 bulan 20 hari lamanya.

Transfer periode ini didominasi oleh pemohon-pemohon yang sudah sangat lama, ada yang sejak Mei 2005, Juli 2005, dll. Alhamdulillah akhirnya usaha sensei membuahkan hasil juga. Walaupun dengan susah payah.

Di antara pemohon klaim ada yang pernah mengeluh "urusan di Jepang kan biasanya cepat dan mudah, kok ngurus pajak nenkin lama amat?".
Dulu pun saya mengira hal yang sama, tapi setelah bermukim beberapa tahun di sini, akhirnya saya jadi paham bahwa memang urusan birokrasi di Jepang itu cepat dan mudah selesainya, KECUALI satu hal, "pengembalian uang" :nyengir: Pengembalian dana apa pun, mulai dari pajak nenkin, kelebihan pajak, kelebihan iuran listrik, dll, semuanya pasti memakan waktu tidak singkat. Sebab untuk menarik kembali dana yang telah masuk ke dalam kas suatu instansi akan memerlukan verifikasi di berbagai tingkat birokrasi, yang akhirnya akan memperlambat proses yang ada. Mudah2an teman2 pemohon yg belum juga menerima dananya hingga hari ini bisa memahami hal tersebut.

Mengubah kekurangan menjadi peluang

Sebelum datang ke Jepang beberapa buku tentang perilaku orang Jepang atau kebiasaan2 orang di negeri ini sempat saya tamatkan. Setelah datang dan mukim di negeri ini saya mendapati banyak hal2 dalam buku itu yang benar apa adanya, walaupun di tahun2 awal berada di masyarakat ini saya sempat berpikir yang sebaliknya.

Telah memasuki dua dunia yg berbeda di negeri ini, yaitu dunia kerja dan dunia akademis, sedikit banyak memberikan pemahaman yang cukup berwarna dalam menilai karakter sosial orang Jepang.

Sewaktu masih bekerja, sikap dan perilaku orang Jepang yang berada pada level yang sama dgn saya yaitu nikutai roudousha(pekerja kasar) cukup mudah saya mengerti. Kebanyakan sikap mereka yang amat sangat patuh dan gampang diatur, waktu itu dengan mudah saya nilai sebagai sebuah manifestasi dari konsekuensi sebagai bawahan yang tentu saja akan menemui banyak kesulitan kalau tarik urat leher dengan atasan. Sebagai akibatnya mereka walaupun tidak setuju dengan pendapat atasan, cenderung akan diam dan menurut, walaupun sebenarnya di belakang ketika saya pancing untuk berpendapat, mereka bisa mengeluarkan unek2 yg cukup bombastis jikalau diutarakan pada rapat-rapat perusahaan.

Akan tetapi, setelah 3 tahun bergaul dengan generasi2 muda yg katanya calon2 pemimpin di masa datang, saya sedikit mulai sedikit menyadari bahwa kepatuhan bagi orang Jepang adalah sebuah karakter sosial yang melekat hampir pada semua orang, pada level sosial apa pun dan pada jenis masyarakat mana pun. Tentu saja dengan perkecualian orang-orang tertentu.

Hari ini kelas seminar di kampus saya melakukan debat antar kelas seminar yang diasuh oleh sensei yang kebetulan adalah suami-istri. Sang suami adalah dosen di Universitas Kobe sedangkan sang istri adalah dosen mata kuliah Ekonomi Internasional di kampus saya Universitas Hyogo.
Selama ini di kelas seminar kami, saya sering terheran-heran menyaksikan antusiasme teman2 satu kelas yg terdiri dari 8 orang yang nyaris tidak ada. Awalnya sebelum ditunjuknya seorang leader, suasana kelas nyaris mati. Setiap kali ada presentasi pun, nyaris tidak ada respon berupa pertanyaan ataupun pendapat dari anggota seminar lain (selain saya yg selalu bersemangat walaupun mungkin mereka ndak ngerti saya ngomong apa) :nyengir: Berharap tepuk tangan? tatap mata penuh perhatian pun tak ada.
Pada awalnya saya mengira mereka tidak tahu atau tidak paham dengan isi permasalahan, tapi jika diajak berbicara one to one, ternyata tidak juga. Mereka cukup mengerti dgn pembahasan yg ada, hanya saja katanya mereka tidak PD untuk bicara :bawah:
Suasana ini menjadi cair setelah sensei menunjuk seorang untuk bertindak sebagai leader.
Tapi perubahan itu malah mengarah pada titik ekstrim karena akhirnya hampir semua pembicaraan bertumpu pada satu orang. Boleh dikata pendapat kelas seminar kami adalah pendapat sang leader. Exactly one man show.

Di beberapa kesempatan saya dan seorang teman dari Cina mencoba meng-counter pendapat sang leader. Sayang sekali mungkin karena masih belum matang jiwanya, kedudukan sebagai leader itu membuat sang leader kehilangan kontrol diri dan menjadikannya agak sedikit merasa di atas dari yang lain, sehingga nyaris tidak ada pendapat yang lolos kecuali pendapatnya sendiri, again, one man show. Saya tidak menyalahkan sang leader sendiri karena sedikit banyak perilaku itu terbentuk oleh sikap anggota lain yg memang betul2 manut dalam hal apa pun.
Hal ini saya pikir hanya terjadi di kelas seminar kami.

Ternyata lagi-lagi saya salah. Dalam debat hari ini, pola itu terlihat dengan nyata di kelas seminar universitas Kobe. Keberadaan seorang leader sangat menonjol dan mudah ditebak dalam tim yang duduk di depan kami, walaupun sang leader cukup pintar berbagi sehingga pada saat sesi tanya jawab beberapa anggota lain dari mereka sempat memberi pendapat. Suatu hal yang sangat berbeda dengan kelas seminar kami, karena hanya dua orang yg memberi pertanyaan, leader dan saya 🙁 Tapi tetap saja, pola kepemimpinan tunggal sangat nyata terlihat. Tampaknya bagi mereka, manut dan menurut abis kepada leader adalah suatu bentuk team work.

Di beberapa kesempatan diskusi dengan kenalan2 Jepang yang berkecimpung dalam marketing dan bisnis saya sudah sering mendengar bahwa “team-work” (baca=manut penuh pada pemimpin), memang merupakan hal yang sudah mendarah daging bagi orang Jepang.

Ketika diterapkan pada dunia kerja yang memang sangat efektif maka karakter sosial itu sangat bermanfaat sebab team-work yang diartikan secara sederhana menjadi “kepatuhan” memang sangat dibutuhkan pada industri, terutama yang berhubungan dengan monozukuri. Tapi ketika “kepatuhan” itu pun mengkristal dalam dunia akademik yang seharusnya lebih berwarna, maka karakter sosial itu terasa seperti penghalang bagi dinamisasi. Sebab perbedaan pendapat, bahkan dalam debat sekalipun, seakan-akan dianggap sebagai suatu hal yang tabu.

Ketika activity center berada di tengah-tengah masyarakat memang tidak akan ada masalah, tapi manakala sang pemimpin tidak ada maka yang terjadi adalah kevakuman yg betul-betul kosong tanpa inisiatif. Dan ini terjadi di kelas seminar kami sekitar sebulan yg lalu ketika leader berhalangan hadir. Suasana kelas waktu itu betul2 beku sehingga akhirnya saya berinisiatif mengambil alih pimpinan, padahal tentu saja itu bukan hal yg terbaik karena di kelas itu sayalah yg paling bodoh bahasa jepangnya. Tapi karena betul2 tidak ada aksi apa pun maka saya nekat saja. Sensei pembimbing ? diam dan tak berkomentar apa pun :bawah:

Mungkin kesimpulan saya ini masih terlalu mentah karena tidak didasari pada sebuah data akurat, dan saya pun belum terlalu bisa disebut mengerti masyarakat negeri ini karena baru 6 tahun tinggal di sini, tapi secara sepintas jika melihat dari apa yang pernah terekam di otak saya, dengan mudah bisa disimpulkan bahwa bagi sebagian orang jepang team work itu artinya patuh, tidak berbeda pendapat, dan ikut apa pun kata leader. Wallahu a′lam bis showab.

Saya tidak bermaksud mengejek ataupun menyalahkan orang Jepang dengan karakter sosialnya karena seperti kata pepatah “lain padang lain belalang”, beda bangsa beda pula karakternya. Satu hal yang ingin saya tekankan adalah, bangsa ini bukan bangsa yang sempurna, masyarakat ini bukan masyarakat yang tidak punya kekurangan.
Kehebatan mereka adalah mampu membuat kekurangan itu menjadi hal yang menguntungkan, mereka mampu menjadikan kekurangan itu sebagai winning point dalam banyak hal.
Ketidakmampuan masyarakatnya untuk berdinamika dalam banyak hal justru membawa keuntungan ketika dibutuhkan tenaga kerja yang pemikirannya seragam, kualitas kerja seragam, dan karakter sosialnya nyaris seragam.
Kekurangan Jepang akan sumber daya alam justru dimanfaatkan untuk membangkitkan kesadaran di tengah-tengah masyarakat akan pentingnya “monozukuri” atau “penciptaan barang”.
Kita seharusnya bisa belajar dari kemampuan mereka itu, bukannya sekedar mencontoh mereka bulat-bulat. Kita seharusnya mulai belajar mensiasati kekurangan kita dan menjadikannya titik kekuatan.

Di tahun 1970-an ketika terjadi oil shock, seluruh dunia terancam resesi besar karena inflasi yang berada pada posisi stagnan dan harga bahan bakar yang melangit. Tapi, krisis yang terjadi itu justru dibalik menjadi berkah oleh pengusaha2 Jepang dengan menciptakan mobil2 kecil yang hemat energi yang tentu saja langsung merangsek pasar dan menggeser dominasi mobil2 buatan Amerika yang besar2 dan boros bahan bakar. Orang Jepang berhasil mengubah kekurangan energi menjadi peluang bisnis yang mendongkrak industri andalan mereka.

Tahun ini harga minyak melambung melebihi perkiraan banyak orang. Anda tahu apa yang menjadi kata kunci bakal pemenang dalam krisis minyak kali ini? Kebanyakan ilmuwan kalau ditanya maka akan menjawab bahan bakar nabati. Siapa yang menguasai teknologi bahan bakar nabati maka akan menguasai teknologi di tahap selanjutnya. Di mana kita menempatkan diri pada posisi ini? Indonesia belumlah bisa menjadi pelopor teknologi mesin, tapi dengan luas tanah yg cukup dan iklim yg memungkinkan cocok tanam sepanjang tahun, maka negeri kita berpotensi menjadi ladang minyak nabati. Anda punya tanah? siap-siaplah tanam “pohon jarak”.

Mari mulai belajar dari kekurangan kita.

—————————
informasi tentang peluang bahan bakar nabati http://io.ppi-jepang.org atau http://beritaiptek.com/