しあわせの村に行ってきた。

Udara musim gugur yg mulai menyengat terasa dingin menyentuh kulit ketika menyapa pagi di bilangan Sannomiya. Turun dari Port Liner, saya mengambil jalan di bawah tanah agar terhindar dari serbuan angin dingin, kompleks pertokoan kebanggan kota Kobe ini disebut Santika, singkatan dari Sannomiya Chika. Bagi orang Jepang tentu langsung paham, tapi bagi orang asing yg baru belajar bahasa Jepang tentu akan bingung. SANnomiya CHIka, kok sebutannya bukan SANCHIKA? :bawah: Dalam abjad Jepang memang tidak ada huruf TI, yg ada hanya CHI, adapun ティ ataupun てぃ sebenarnya huruf serapan bahasa asing yg dipaksakan. Jadi bagi orang Jepang SANTIKA tetap dibaca SANCHIKA.

Setelah berjalan sekitar 10 menit saya tembus di bawah gedung bertingkat 21 yg disebut International Hall. Begitu muncul di ujung elevator, staf International Center sudah siap menunggu, alangkah malunya karena saya telat sekitar 5 menit dari jadwal yg ditetapkan.
Hari ini 16 orang mahasiswa asing dari berbagai negara diundang untuk menghadiri acara rutinan setiap tahun di sebuah universitas yg berada di dalam kompleks fasilitas khusus manula (manusia usia lanjut). Tempat itu disebut SIAWASE NO MURA, atau DESA BAHAGIA.
Terletak di utara Kobe di atas rimbunan pohon2 di kelilingi bukit2, pemandangan di siawase no mura ini memang menakjubkan. Laut Akashi yg terkenal dgn tako (gurita)-nya tersembul di antara rerimbunan pohon. Udara yg segar, fasilitas leasure dan olahraga yg lengkap, transportasi yg nyaman, pantas saja kalau disebut siawase no mura, desa bahagia.

Kegiatan sesi pertama diisi dengan perkenalan singkat pejabat universitas dan pengurus pusat International Centre Kobe.
Uiversitas ini disebut SENIOR COLLEGE. Kenapa disebut demikian? Sebab mahasiswanya memang semua senior2, alias lanjut usia. Menurut keterangan pihak universitas, usia rata2 mahasiswanya adalah 68 tahun. Aktifitas mereka di universitas ini sebenarnya hanya untuk mengisi waktu di usia tua, itu sebabnya mereka wajib datang hanya 2 kali dalam seminggu. Itu pun kegiatan bukan belajar seperti layaknya universitas biasa, mereka lebih banyak berdiskusi dan bermain santai. Yang menarik, ada aturan tak tertulis di kampus itu yaitu LARANGAN BERPENYAKIT POST POWER SINDROM.
Post power sindrom adalah sebuah gejala kejiwaan yg banyak diderita oleh orang tua yaitu selalu membangga-banggakan kejayaan masa lalu. Dalam kelas, sama sekali tidak boleh bercerita tentang pekerjaan mereka dulu, jadi tidak perduli apakah mereka dulu adalah mantan pemimpin cabang Panasonic atau hanya sekedar mantan petugas sampah kecamatan, semuanya sama kedudukannya. Mengesankan sekali !

Sesi kedua diisi dengan diskusi kelompok, saya bersama 2 mahasiswa Cina dan 1 mahasiswa Mongol dikeroyok dengan pertanyaan oleh 8 orang kakek2 dan nenek2 :nyengir: Pertanyaan seputar cara kami belajar bahasa Jepang dan apa saja hambatannya. Karena cuma cerita pengalaman, ya santai2 saja.

Sesi ketiga sesudah makan siang bersama diisi dengan bermain PETANKU, mainan khas orang tua berupa melempar bola logam ke arah bola kecil, yg bisa menempatkan bola logam terdekat adalah pemenangnya. Sebelum bermain saya sempat ngobrol singkat dgn mahasiswa asal Morokko. Seorang staf International Centre di dekat kami kebingungan dan bertanya どうして通じるの? (kok bahasanya bisa nyambung?) Saya hanya senyum2 melihat dia penasaran karena tidak bisa mengerti bahasa yg kami pakai, maklum pake bahasa Arab :nyengir: Padahal obrolan kami terbatas karena kosakata bahasa Arab saya yg sudah mulai menipis.

Ternyata menyenangkan juga main petanku, sayang saya harus pulang duluan karena ada kuliah jam 14:30.

Ketika bis yg kunaiki menjauhi kompleks itu, di kejauhan terlihat lapangan olahraga yg ramai oleh kakek2 dan nenek2 yg sedang asik berolahraga.
Alangkah senangnya hidup mereka di dunia ini. Persis seperti kata orang, “ketika muda kerja keras, ketika tua hidup senang”.
Sayang sekali untuk orang2 Jepang itu harus ditambahkan satu frase lagi, “setelah mati, kemungkinan besar kekal di neraka” sebab mereka tidak beroleh nikmat hidayah dari Allah. Dalam hati aku berdoa as′aluka ridhaaka wal jannata, wa audzu bika min sakhtika wan naar, ya Allah aku bermohon keridhaan dan surga-Mu dan aku berlindung pada-Mu dari kemarahan dan neraka-Mu, amin.

Hari ini saya melihat kesenangan di masa tua yang mengingatkanku akan pastinya peristiwa kematian di dalam hidup ini, alhamdulillah.

3 comments

  1. Nan′z(tamu) says:

    Mr. web
    bagusan mana post power sindrom or megalomania he he
    (balas via email aja ya)

  2. Nings(tamu) says:

    Bagus banget….aq jg pengen ngerasain keindahan and kemajuan negara jepang tapi aq nggak tau caranya …. gimana yaaaaaaaa…

  3. Webmaster says:

    Klo masalah megalomania kayaknya bapak dosen, ustadz Afif, yg lebih tahu 🙂

%d bloggers like this: