Archive for November 2006

Dedikasi pada pelayanan

Jam baru menunjukkan 03:59, Aisha sedari tadi tak bisa tidur gelisah berguling ke sana kemari. Malam masih terlelap dalam pelukan angin musim dingin yang berhembus. Fajar masih jauh karena subuh baru menyapa pada pukul 05:16. Burung-burung watari dori sudah tak terdengar riuhnya, mungkin mereka pun semua terlelap dalam dingin.
Dari kejauhan tiba-tiba terdengar raungan sirene pemadam kebakaran. “Ada apa ya…?” Bisik Istri saya pelan. “Ada kebakaran atau ada orang yang terkunci lagi?”. Raungan sirene memang pernah mengejutkan kami sewaktu masih tinggal di daerah Nagata – Kobe. Waktu itu sepulang dari kampus, saya sangat terkejut melihat iring-iringan mobil pemadam kebakaran yang menuju arah apartemen kami. Saat itu Aisha masih bayi ataukah masih dalam kandungan, saya ndak begitu ingat. Yang jelas saya berlari dan berpacu dengan keringat karena sangat khawatir sembari bertanya-tanya dalam hati, kok ada mobil pemadam yg datang tapi tidak ada asap yang membumbung di angkasa.

Waktu itu mobil pemadam kebakaran berhenti tepat di bawah jendela apartemen kami yg lantai 2, sebuah mobil ambulance juga terlihat siaga dgn beberapa petugas medis. Tapi begitu melihat arah apartemen dan tidak terlihat api, maka saya spontan mengucap hamdalah. Saya hampiri seorang petugas dan bertanya, なにかあったんですか? (apa yg terjadi?). Petugas itu tersenyum melihat saya ngos-ngosan lalu menjawab だれかトイレの中からでられへんの (ada orang yg tidak bisa keluar dari toilet).

Puff….saya menyeka keringat dan kembali bersyukur bahwa tidak ada apa-apa.
Sejak saat itu kalau mendengar sirene mobil pemadam kebakaran, kami selalu teringat kejadian itu. Ada sebuah kekaguman tersendiri pada petugas pelayanan publik di negeri ini, mereka betul-betul menangani segala permintaan dengan sungguh hati, bayangkan..hanya untuk menangani sebuah telpon yang memberitahu bahwa seorang nenek terkunci di toilet, mereka mengerahkan sebuah mobil pemadam kebakaran beserta peralatan beratnya ditambah mobil ambulance dengan petugas medisnya.

Saya jadi teringat cerita seorang teman tentang keisengan seorang kawannya dulu di Makassar. Kawannya itu iseng menelpon petugas kebakaran dan memberitahu bahwa terjadi kebakaran di sebuah pemukiman dekat situ. Sebagai akibatnya serombongan mobil pemadam kebakaran dikerahkan sia-sia. Mungkin orang itu tak menyadari bahwa perbuatan isengnya itu berharga ratusan ribu rupiah atau mungkin bahkan jutaan rupiah yg mesti dikeluarkan dari kas Pemda yg dibayar oleh pajak kita semua. Menurut cerita orang, satu kali petugas keluar markas, ada honor tertentu yg mereka terima, dan ada anggaran tertentu yg ditagihkan ke pemerintah, wallahu a′lam.

Di Jepang, menurut sebuah acara di TV, kalau anda melakukan keisengan seperti itu maka hukumannya berat atau dendanya cukup besar. Dan yg terpenting adalah, jangan harap bisa lolos dengan mudah sebab telpon yg masuk dilengkapi dengan caller ID displayer yg memperlihatkan nomor telpon yg masuk, kalaupun pake telpon umum maka mereka akan lacak dengan sungguh-sungguh hingga menemukan siapa yg berbuat.

Karena masyarakatnya tidak iseng maka petugas pelayanan publik pun sungguh2. Di negara kita, pemadam kebakaran katanya sering mengabaikan telpon masuk karena banyaknya penelpon iseng, sebagai akibatnya kebakaran sudah selesai petugas baru datang. Jadi, yg salah siapa?

Tanpa perlu menuding satu pihak, sebaiknya perbaikan sosial ini kita mulai dari diri sendiri. Seperti (terjemahan) kata Rasulullah SAW “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika ia tak mampu maka dengan lisannya. Jika itu pun tak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman“.

Saat ini saya berusaha merubah dengan lisan (tulisan) saya, maukah anda berjanji akan mengubahnya dengan tangan (tenaga) ketika hal itu terjadi? Mari berjanji bersama 😉

Satu lagi dari AN

Alhamdulillah kemarin saya berhasil merampungkan sebuah program sederhana untuk menyediakan layanan informasi waktu sholat via email keitai. Dengan program ini bagi saudara2 muslim yg bermukim di Jepang tidak perlu pusing lagi membawa2 lembar jadwal sholat karena dengan mengirimkan email ke tanya-waktu-sholat(at)anaknegri.com maka dalam waktu maksimal 30 menit robot virtual kami ANicon akan mengirimkan data waktu sholat hari itu. Hingga malam ini teman2 yg mencoba layanan ini sudah lumayan, hanya saja sayang sekali ada beberapa wilayah layanan Softbank belum bisa kami identifikasi. Seorang rekan dari Ishikawa alhamdulillah berkenan mengujicoba dgn Softbank-nya dan akhirnya saya berhasil mendapatkan contoh isi amplop email dari keitai Softbank.

Mudah2an dalam beberapa hari ini semua jenis keitai bisa kami cover supaya teman2 yg mobility-nya tinggi bisa tetap memperoleh jadwal sholat yg tepat via keitai.

Ada beberapa fitur tambahan dari website kami http://anaknegri.com versi baru, di antaranya adalah fasilitas untuk menanyakan kosakata bahasa Jepang (semacam kamus online via email), sharing foto dari kamera keitai, informasi penting via keitai, info halal via email, dll. Info halal via email ini yg mungkin akan makan waktu cukup lama karena data halal-haram dari Islamic Centre yg sudah terlalu usang, kalo ndak salah data terakhir yg kami terjemahkan ke bahasa Indonesia adalah keluaran tahun 2001. Padahal produk2 makanan di Jepang sudah berubah banyak sekali. Ada yg semula nyata haram, sekarang insya Allah jadi halal, demikian pula sebaliknya. Ada keinginan sih mengkoordinasi semacam tim kecil untuk mensurvei kebanyakan produk yg beredar di supermarket, konbini, dll tapi belum sempat juga krena kesibukan yg terlalu menggunung. Mudah2an nanti Allah memberi kemudahan, amin. Tim ini cukup sulit dibentuk karena butuh orang2 yg kemampuan nihonggonya level 2 ke atas, dan juga harus paham kosakata yg ada hubungannya dengan makanan. Dan kalaupun bisa bahasa Jepang, mau nggak kerja bakti hanya berharap pahala? 🙂

Mudah2an cita2 ini bisa terlaksana. Yang jelas satu langkah ini membuka jalan untuk aktifitas lainnya. Alhamdulillah.

しあわせの村に行ってきた。

Udara musim gugur yg mulai menyengat terasa dingin menyentuh kulit ketika menyapa pagi di bilangan Sannomiya. Turun dari Port Liner, saya mengambil jalan di bawah tanah agar terhindar dari serbuan angin dingin, kompleks pertokoan kebanggan kota Kobe ini disebut Santika, singkatan dari Sannomiya Chika. Bagi orang Jepang tentu langsung paham, tapi bagi orang asing yg baru belajar bahasa Jepang tentu akan bingung. SANnomiya CHIka, kok sebutannya bukan SANCHIKA? :bawah: Dalam abjad Jepang memang tidak ada huruf TI, yg ada hanya CHI, adapun ティ ataupun てぃ sebenarnya huruf serapan bahasa asing yg dipaksakan. Jadi bagi orang Jepang SANTIKA tetap dibaca SANCHIKA.

Setelah berjalan sekitar 10 menit saya tembus di bawah gedung bertingkat 21 yg disebut International Hall. Begitu muncul di ujung elevator, staf International Center sudah siap menunggu, alangkah malunya karena saya telat sekitar 5 menit dari jadwal yg ditetapkan.
Hari ini 16 orang mahasiswa asing dari berbagai negara diundang untuk menghadiri acara rutinan setiap tahun di sebuah universitas yg berada di dalam kompleks fasilitas khusus manula (manusia usia lanjut). Tempat itu disebut SIAWASE NO MURA, atau DESA BAHAGIA.
Terletak di utara Kobe di atas rimbunan pohon2 di kelilingi bukit2, pemandangan di siawase no mura ini memang menakjubkan. Laut Akashi yg terkenal dgn tako (gurita)-nya tersembul di antara rerimbunan pohon. Udara yg segar, fasilitas leasure dan olahraga yg lengkap, transportasi yg nyaman, pantas saja kalau disebut siawase no mura, desa bahagia.

Kegiatan sesi pertama diisi dengan perkenalan singkat pejabat universitas dan pengurus pusat International Centre Kobe.
Uiversitas ini disebut SENIOR COLLEGE. Kenapa disebut demikian? Sebab mahasiswanya memang semua senior2, alias lanjut usia. Menurut keterangan pihak universitas, usia rata2 mahasiswanya adalah 68 tahun. Aktifitas mereka di universitas ini sebenarnya hanya untuk mengisi waktu di usia tua, itu sebabnya mereka wajib datang hanya 2 kali dalam seminggu. Itu pun kegiatan bukan belajar seperti layaknya universitas biasa, mereka lebih banyak berdiskusi dan bermain santai. Yang menarik, ada aturan tak tertulis di kampus itu yaitu LARANGAN BERPENYAKIT POST POWER SINDROM.
Post power sindrom adalah sebuah gejala kejiwaan yg banyak diderita oleh orang tua yaitu selalu membangga-banggakan kejayaan masa lalu. Dalam kelas, sama sekali tidak boleh bercerita tentang pekerjaan mereka dulu, jadi tidak perduli apakah mereka dulu adalah mantan pemimpin cabang Panasonic atau hanya sekedar mantan petugas sampah kecamatan, semuanya sama kedudukannya. Mengesankan sekali !

Sesi kedua diisi dengan diskusi kelompok, saya bersama 2 mahasiswa Cina dan 1 mahasiswa Mongol dikeroyok dengan pertanyaan oleh 8 orang kakek2 dan nenek2 :nyengir: Pertanyaan seputar cara kami belajar bahasa Jepang dan apa saja hambatannya. Karena cuma cerita pengalaman, ya santai2 saja.

Sesi ketiga sesudah makan siang bersama diisi dengan bermain PETANKU, mainan khas orang tua berupa melempar bola logam ke arah bola kecil, yg bisa menempatkan bola logam terdekat adalah pemenangnya. Sebelum bermain saya sempat ngobrol singkat dgn mahasiswa asal Morokko. Seorang staf International Centre di dekat kami kebingungan dan bertanya どうして通じるの? (kok bahasanya bisa nyambung?) Saya hanya senyum2 melihat dia penasaran karena tidak bisa mengerti bahasa yg kami pakai, maklum pake bahasa Arab :nyengir: Padahal obrolan kami terbatas karena kosakata bahasa Arab saya yg sudah mulai menipis.

Ternyata menyenangkan juga main petanku, sayang saya harus pulang duluan karena ada kuliah jam 14:30.

Ketika bis yg kunaiki menjauhi kompleks itu, di kejauhan terlihat lapangan olahraga yg ramai oleh kakek2 dan nenek2 yg sedang asik berolahraga.
Alangkah senangnya hidup mereka di dunia ini. Persis seperti kata orang, “ketika muda kerja keras, ketika tua hidup senang”.
Sayang sekali untuk orang2 Jepang itu harus ditambahkan satu frase lagi, “setelah mati, kemungkinan besar kekal di neraka” sebab mereka tidak beroleh nikmat hidayah dari Allah. Dalam hati aku berdoa as′aluka ridhaaka wal jannata, wa audzu bika min sakhtika wan naar, ya Allah aku bermohon keridhaan dan surga-Mu dan aku berlindung pada-Mu dari kemarahan dan neraka-Mu, amin.

Hari ini saya melihat kesenangan di masa tua yang mengingatkanku akan pastinya peristiwa kematian di dalam hidup ini, alhamdulillah.