Archive for June 2006

Idealis

Hari ini saya akhirnya menghubungi seseorang di Indonesia yang sudah menitipkan nomor telpon sekitar seminggu yang lalu. Beliau menyuruh telpon sehubungan dengan rencana beliau mewujudkan kerjasama di bidang perekrutan kenshusei. Pada intinya, menurut teman yang mengenalkan saya kepada beliau, beliau ingin menjajaki kerjasama dengan kolaborasi KURNIAWAN-SUZUKI yg sudah terjalin selama 2 tahun terakhir.

Saya awalnya cukup antusias karena mengetahui beliau adalah mantan pejabat tinggi yg sudah lama berkecimpung di bidang ketenagakerjaan. Seyogyanya, menurut perkiraan saya, beliau tentulah orang yang niat dasarnya untuk memajukan bangsa (ceile…), apalagi sebagai seorang wakil rakyat yg aktif di Senayan, sudah wajar kalau dari beliau saya berharap bisa mendengar pembicaraan yang agak idealis. Saya sangat berharap bahwa perekrutan kenshusei ini bukan sekedar “menjual” tenaga orang lalu meraup untung yang wah. Harus ada yang lebih dari itu.

Seyogyanya program kenshusei menghasilkan manusia2 yg mandiri, berani, berpengetahuan, berwawasan luas, dan matang kepribadiannya. Semua itu tidak bisa dihasilkan hanya dengan merekrut anak2 muda lalu mengirimkannya ke Jepang, then bye bye, ganbatte kudasai. Harus ada upaya sistematis yg dilakukan untuk menindaklanjuti nasib ribuan anak2 muda yg kebingungan harus kemana kaki melangkah. Pengalaman hidup enak di Jepang selama 3 tahun, kalau tidak disikapi dengan baik, malah hanya akan jadi mimpi buruk hingga akhir hayat. Seharusnya, orang2 seperti beliau-lah yg menggalang kekuatan di lapisan atas untuk mendorong pemerintah menelorkan gagasan2 dan kebijakan2 yg bisa membantu mantan kenshusei.

Tapi ternyata saya yang terlalu idealis, saya yang terlalu berharap. Bagi beliau, perekrutan kenshusei is just another business. Mungkin memang saya yang terlalu idealis.

Dedikasi

Pagi menjelang, hujan rintik-rintik membasahi bumi sekeliling. Aku masih terpaku di depan komputer, satu malam lagi yang aku lewatkan tanpa sempat memicingkan mata hingga lepas fardhu subuh.

Inikah yang namanya dedikasi? Entahlah, tapi seluruh syaraf-syaraf tubuhku memintaku untuk terus berjaga dan konsentrasi dengan tumpukan tugas dan kerja yang ada. Padahal setengah dari tugas ini tidak menghasilkan keuntungan materi apa pun, bahkan sebaliknya justru aku yang harus merogoh kantong membayar listrik komputer. Mungkin inilah yang disebut dedikasi, semoga bisa dihitung sebagai amal ibadah.

Sepuluh tahun yang lalu, aku banyak membaca tentang kerja keras dan dedikasi. Bertumpuk buku-buku kisah sukses manusia-manusia sepanjang zaman. Mulai dari Rasulullah SAW, Ray Croc pendiri Mc Donald, Rockefeller si raja minyak Amerika, Hilton raja hotel, hingga KH.Syaifuddin Zuhri seorang pejuang dan mantan menteri agama RI. Aku banyak tahu teori tentang dedikasi, walaupun waktu itu tidak begitu tahu bagaimana sebenarnya yang namanya kerja keras.

Belasan tahun kemudian, kini, aku tahu seperti apa kerja keras itu, tapi masih terus berusaha lebih tahu tentang apa itu dedikasi.

Kini, yang aku mengerti adalah bahwa dedikasi terbaik adalah dedikasi yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW, yaitu dedikasi lillahi ta′ala.

Jika kita berdedikasi untuk materi, maka ketika pekerjaan kita tidak menghasilkan materi sesuai harapan, maka akan ada kekecewaan.
Jika kita berdedikasi untuk pangkat dan jabatan, maka manakala kerja tidak menghasilkan respek, akan timbul penyesalan.
Tapi jika dedikasi itu ditujukan pada Allah sebagai final destination, maka akan ada ketentraman yang hakiki. Karena ketika kita sukses, akan ada kesadaran bahwa semua itu terjadi karena seizin Allah, alhamdulillah. Dan ketika kegagalan yang terjadi, maka kita akan ingat bahwa itu pun pastilah kehendak Allah, astagfirullah.
Alangkah indah hidup seorang mu′min, ketika ia diberi rejeki maka ia bersyukur, tapi ketika ditimpa kegagalan maka ia memuji Tuhannya dan bersabar.

Tingkatkan dedikasi dalam diri kita, tapi ingatlah untuk menyandarkan semua tujuan kepada upaya pencapaian rahmat dan rahim dari Allah SWT. Karena toh, semua dari kita akan kembali kepada-Nya, rela ataupun tidak rela, siap ataupun tidak siap.

Lain milik….

Hari ini walaupun hari libur seperti biasa saya kembali tenggelam dalam tumpukan dokumen 🙂
Sejak pagi hingga siang sebenarnya mata sudah cukup perih karena ngerjain website majalah PPI Jepang Inovasi Online ( http://io.ppi-jepang.org ) tapi karena server tempat inovasi mangkal tidak kunjung sembuh walaupun sudah kontak ke yang punya gawe, akhirnya kerjaan saya alihkan ke dokumen teman2 pemohon klaim pajak nenkin.

Hari ini terpaksa kami harus mengembalikan 19 dokumen bermasalah yang hingga habis masa berlakunya tidak kunjung diperbaiki oleh yang punya, entah karena nggak butuh duit atau karena nggak butuh duit, hehehehe…sama saja ya.
Ada satu orang pemohon yang sudah memasukkan aplikasi sejak 2004 akhir, waktu itu karena cara penulisan yang salah, tandatangan yg tak ada, dll maka dokumennya kami kembalikan dan seperti biasa kami beri penjelasan bagaimana caranya menulis dokumen yang benar. Setelah menunggu, surat kami dibalas, cara tulisnya memang benar, tandatangan juga lengkap, tapi kali ini ditulis pakai pensil :bawah: bingung kami, jangankan untuk aplikasi pengembalian pajak nenkin yang urusannya sama departemen di sebuah negara maju seperti Jepang, untuk minta surat pengantar ketua RW di Makassar saja kalau isi formulir pakai pensil PASTI ditolak mentah-mentah. Masih untung kalau nggak dimarah-marahin oleh pak RW-nya 😀 Kalo nggak percaya tanya sama bapak saya (bapak saya ketua RW di Tamalanrea – Makassar hehehehehe….).

Akhirnya dokumen kami kembalikan lagi dan meminta pemohon itu mengisi ulang dengan pulpen, hingga hari ini balasannya tidak kembali-kembali. Kami bahkan sudah menyurati sampai 3 kali, menelpon berkali-kali tapi ndak pernah ada yg angkat. Hari ini dokumennya terpaksa kami kembalikan karena masa pengurusan dokumennya sudah lewat, kalau kata orang Sunda…lain milik (bukan rejeki) :kedip:

Ada juga yang malah hanya memasukkan biodata thok ! nothing more ! Gimana ngurusnya kalau cuma kirim nama, alamat, tgl lahir, dll? Yang tandatangan formulir siapa? Yang tahu nama dan alamat perusahaan siapa? :keringat_dingin:
Ada lagi yg sudah 2 kali kami kirimi surat dan 2 kali pula suratnya kembali, capnya berjudul TIDAK DIKENAL, telponnya tidak bisa dihubungi, akhirnya kami pasang pengumuman di website dengan harapan ada yg kenal, hingga setahun ini tidak ada balasan juga hingga habis masa berlaku dokumennya (5 tahun sejak kepulangan ke Indonesia)… lain milik memang.

Kalau bukan rejeki, diuber gimana pun memang nggak akan dapet ya…lha wong rejeki itu yang nentuin Allah, kita…ya harus usaha.
Kalau dapat ucaplah alhamdulillahirabbilalamin, kalau ndak dapat ya ucaplah la haula wa quwata illa billah (tiada daya dan kekuatan selain dengan Allah) dan bersabarlah.

Pokok′e tetap ganbarou ne…watashi mo ganbaru yo!!