mungkin memang sudah begitu

Selama menggeluti bidang per-nenkin-an sejak tahun 2004, saya pribadi banyak belajar tentang karakter orang-orang kita, Indonesia. Dari situ saya semakin banyak belajar supaya bisa mengambil hikmah dari dua dunia berbeda, yaitu Indonesia dan Jepang.

Sejak meninggalkan bangku kuliah STT Telkom Bandung dan terjun bebas dalam dunia bisnis saya sempat menekuni bisnis MLM bernama Amway, yang waktu itu katanya satu-satunya perusahaan MLM yang memiliki penjualan sebesar 5 milyar pertahun di Indonesia (saingan terberat waktu itu adlah CNI), maaf kalau saya salah kutip angka, tapi angka itulah yg saya ingat banget disebut-sebut di setiap seminar kepribadian tahun 1995-1996. Penghasilan dari MLM waktu itu cukup menggiurkan karena saya bisa mengantongi angka juta dalam sebulan. Tapi karena prinsip hidup yang rasanya tidak sejalan dengan cara-cara MLM berbisnis, maka saya meninggalkan dunia itu, padahal waktu itu downline sudah berada pada angka 3 digit.

Sama sekali tidak ada penyesalan bagi saya karena pernah berkecimpung dalam dunia MLM, walaupun beberapa teman saya dulu di ST3 sering menuding MLM itu yang membuat saya gerah di kampus dan memilih terjun ke dunia tak jelas, dunia bisnis. Padahal saat itu, saya mahasiswa pertama angkatan 94 yang mendapat beasiswa (penilain dari wawancara, bukan IP. Karena kalau IP, maka pasti saya tidak masuk kategori 🙂 Yang saya syukuri adalah bahwa saya pernah ikut seminar-seminar kepribadiannya yang dulu sering diadakan di Wisma Cipaganti Bandung. Yang juga saya syukuri bahwa saya pernah diajarkan untuk menyusun rencana dan membangun impian. Mungkin karena aktif dalam network 21 itu juga yang membuat saya tertarik dengan ilmu psikologi terapan, yang pada gilirannya mengantarkan pertemuan saya dengan istri saya sekarang yg waktu itu kuliah psikologi di Unisba :nyengir: Saya kemudian melahap puluhan buku2 tentang biografi orang sukses, bahasa tubuh, bahasa tulisan, psikologi pemasaran, hingga teori-teori ekonomi makro dan mikro yang kemudian mengantarkan minat saya untuk kembali belajar secara akademis, bukan otodidak lagi.

Selama aktif MLM saya banyak bertemu dengan pelbagai jenis manusia, mulai dari mahasiswa kere kayak saya, dosen S3 yang jaga image, sampai pebisnis pemula yang sok sukses :dua_jempol: Tapi satu kesamaan di antara mereka yang paling menonjol adalah mereka mampu optimis terhadap sesuatu yang masih dalam bentuk virtual, mereka punya visi dan punya semangat.

Ketika mendaftar menjadi kenshusei di Kendari, saya kembali menebar pandangan ke kerumunan manusia yang datang mendaftar, dan kembali saya menemukan satu kesamaan di antara mereka, yaitu mereka punya harapan untuk lulus. Mereka punya visi, dan semangat yang menyala.

Selama menjadi kenshusei, saya seringkali berdecak kagum melihat kualitas teman-teman seperjuangan saya yang datang bekerja di Jepang ini. Betapa tidak, untuk perusahaan sekondang Panasonic misalnya, ternyata pernah dalam suatu periode tertentu 25% komponen resistornya seluruh Jepang, diproduksi oleh sebuah perusahaan kecil yg karyawannya hanya sejumlah 16 orang. Dan uniknya lagi, 3 di antaranya adalah kenshusei orang Indonesia :dua_jempol: yaitu sempai saya angkatan pertama dua orang dan sempai angkatan kedua satu orang(ketika saya masuk kerja jumlah produksi sudah menurun drastis karena mesin dipindahkan ke Batam). Ternyata selidik punya selidik, perusahaan tempat teman2 lain bekerja pun sama, kenshusei Indonesia rata-rata menjadi tulang punggung produksi, betapa hebatnya orang Indonesia :bawah: