Bisnis tanpa pengetahuan? sugoi atau nekat?

Hari ini seorang teman lama menelpon, dia kedengarannya sedang bersusah-hati karena jalan di depannya buntu. Ceritanya teman saya yang satu ini ingin meng-online-kan bisnis komputer bekasnya.

Selama ini ia sudah menekuni bisnis itu dengan cukup sukses, menurut cerita dia. Dengan modal nekat dan sedikit pengetahuan tentang mesin pinter itu, katanya ia telah berhasil mengumpulkan cukup banyak helai2 fukuzawa tersenyum (yen 10000-an) Tapi karena merasa bisnisnya tidak berkembang, maka ia bermaksud memperlebar jangkauan pasar dengan online selling. Masalahnya, ia tidak mengerti bagaimana caranya.

Telpon ini sebenarnya yang kedua, sebelumnya saya menyarankan ia untuk searching di internet guna mencari tukang website yang bersedia dibayar murah untuk buat website buat jualan. Menurut kisahnya, ia sudah menemukan yang dimaksud itu, tapi ia jadi urung mendengar penawaran yang disebutkan oleh teman yang didapatnya via chatting itu. Ia dimintai 10 juta rupiah untuk website tersebut.

Sebenarnya sedari awal kayaknya ia ingin meminta saya untuk membuatkan website itu, tapi di telpon pertama ia masih sungkan2. Di telpon kedua ini akhirnya ia terus terang, dan bertanya berapa tarif saya. Saya menampik ringan karena pekerjaan saya yang ada saja tidak bisa saya selesaikan dalam 24 jam sehari aktifitas saya. Saya bekerja rata-rata 10 jam sehari selain aktifitas masuk kampus yang memakan waktu rata-rata 6 jam sehari, tapi tetap saja pekerjaan tersisa segunung :nangis: .
Ketika saya desak kenapa nggak buat sendiri saja, dia pun mengaku kalau benar2 zero dan enggan untuk belajar lebih dalam.

Terus terang saya miris mendengarnya. Mengapa? karena sudah menjadi pengetahuan umum, kalau ingin buka usaha tertentu, maka tentu saja kita harus tahu tentang bidang usaha kita itu dengan baik dan benar. Dan jika belum punya pengetahuan itu, maka wajib hukumnya belajar.

Suatu hari saya pernah terlibat diskusi di warung kopi dekat eki dengan seorang rekan Jepang. Kala itu kami ngobrol tentang dunia usaha di Jepang ini. Menurut beliau, salah satu penopang dunia bisnis Jepang adalah keberadaan orang2 yang disebut SHOKUNIN. Shokunin ini adalah sebutan untuk orang-orang yang amat sangat ahli di bidangnya. Mungkin bidangnya itu hanya hal yang terlihat sepele, misalnya membuat pandai besi. Tapi shokunin-shokunin itu ibaratnya seorang samurai yang menguasai alur-alur pedangnya, mereka akan menguasai bidangnya hingga hal-hal terkecil. Kalau shokunin itu seorang pandai besi, maka ia akan tahu dengan detail bagaimana proses arang yang dibakar bersama serbuk besi akan membentuk lempengan logam yang lebih keras dari besi, walaupun ia tidak pernah masuk universitas dan belajar kimia. Tapi yang jelas, mereka pasti sudah mempelajari semua itu sebelum terjun ke dalam bidang itu. Tidak mau belajar? Pasti nggak bakalan jadi shokunin.

Dengan adanya shokunin-shokunin di Jepang, maka standar kualitas barang produksi negara ini diakui oleh dunia. Kalau anda seorang kenshusei saat ini, cobalah tebar pandangan anda di tempat kerja. Anda akan menemukan shokunin-shokunin dalam skala kecil di pabrik anda.

Apa yang ingin saya tekankan, bukan bahwa kita harus menjadi shokunin dulu sebelum memulai bisnis. Tidak perlu menjadi seorang insinyur peternakan untuk menjadi peternak ayam. Tapi sangatlah naif jika mendalami bisnis tapi tidak ada usaha untuk memperdalam ilmu tentang bisnis kita itu. Jika ingin bisnis mobil bekas, maka mulailah belajar mesin mobil. Jika ingin bisnis wartel, maka mulailah belajar tentang pesawat telpon. Dengan begitu, ketika mendapat kendala, anda tidak perlu kelimpungan mencari teknisi.

Penyakit yang banyak menjangkiti kita adalah ingin cepat berhasil dan menjadi bos, tanpa ingin bersusah-payah dengan belajar dan mulai dari bawah. Mungkin itulah sebabnya bisnis money game marak sekali di Indonesia, karakter kita yang kebanyakan ingin duit tapi ogah keringat. Dengan modal kecil dan ongkang-ongkang kaki bisa dapat jutaan rupiah perbulan Begitu janji-janji yang banyak sekali kita dengar di jagad bisnis di negara kita. Padahal buntut-buntutnya adalah, dengan modal kecil dan ongkang-ongkang kaki, pasti dapat hasil yang kecil juga

Ingin rasanya melihat banyaknya muncul shokunin2 di Indonesia. Tidak masalah kalau hanya shokunin peternak ayam, yang penting ia tahu bagaimana caranya menghasilkan ayam yang dagingnya lezat dan terbebas dari flu burung.
Bukan problem kalau hanya shokunin ikan bakar, yang penting ia benar2 bisa tahu cara memilih ikan segar, membakar, dan menyajikannya dengan sempurna.
Syukur-syukur kalau banyak yang jadi shokunin mesin, sehingga dunia industri kecil kita bisa mulai menggeliat. Kalau shokunin jadi banyak, maka kualitas hidup kita pun akan meningkat karena barang2 yang kita konsumsi meningkat kualitasnya.

Sedang berusaha jadi shokunin apakah anda?
Mari belajar.

Gambarouuu….

Wassalam,
yang sedang berusaha jadi shokunin PHP & MySQL 🙂

2 comments

  1. Aphy saputra(tamu) says:

    Memang betul di indonesia maunya yg instant.nggak mau tekun dalam usaha(sebagian besar)ada juga seeh yg tekun2 kayak mas kurniawan ini looh
    bagus banget saran2 mas
    arigatou

  2. Webmaster says:

    Saya yakin mas aphy lebih tekun dari saya, ganbarou ne…

%d bloggers like this: