Archive for May 2006

Teguran itu datang lagi

Sabtu, pagi, cerah, terguncang, terombang

Bencana datang lagi menyapa negeriku
Peringatan itu datang lagi menampar nusantaraku

Sedih, tangis, pilu, teriakan, lolongan

Akankah kami sadar ya Allah
Ataukah akankah kami semakin terkapar

Entahlah.

—————————————–

Sejak kemarin, ratusan SMS masuk. Banyak berita syukur bahwa mereka masih selamat, tapi tidak sedikit berita sedih, mengabarkan tentang nasib malang saudara atau keluarga.
Alhamdulillah teman2 di PPI segera tanggap, malam ini program penggalangan dana sudah dicetuskan, mudah2an bisa segera terkumpul untuk membantu saudara2 kita di sana.
Kami yang jauh, hanya seginilah yang kami mampu.

Bisnis tanpa pengetahuan? sugoi atau nekat?

Hari ini seorang teman lama menelpon, dia kedengarannya sedang bersusah-hati karena jalan di depannya buntu. Ceritanya teman saya yang satu ini ingin meng-online-kan bisnis komputer bekasnya.

Selama ini ia sudah menekuni bisnis itu dengan cukup sukses, menurut cerita dia. Dengan modal nekat dan sedikit pengetahuan tentang mesin pinter itu, katanya ia telah berhasil mengumpulkan cukup banyak helai2 fukuzawa tersenyum (yen 10000-an) Tapi karena merasa bisnisnya tidak berkembang, maka ia bermaksud memperlebar jangkauan pasar dengan online selling. Masalahnya, ia tidak mengerti bagaimana caranya.

Telpon ini sebenarnya yang kedua, sebelumnya saya menyarankan ia untuk searching di internet guna mencari tukang website yang bersedia dibayar murah untuk buat website buat jualan. Menurut kisahnya, ia sudah menemukan yang dimaksud itu, tapi ia jadi urung mendengar penawaran yang disebutkan oleh teman yang didapatnya via chatting itu. Ia dimintai 10 juta rupiah untuk website tersebut.

Sebenarnya sedari awal kayaknya ia ingin meminta saya untuk membuatkan website itu, tapi di telpon pertama ia masih sungkan2. Di telpon kedua ini akhirnya ia terus terang, dan bertanya berapa tarif saya. Saya menampik ringan karena pekerjaan saya yang ada saja tidak bisa saya selesaikan dalam 24 jam sehari aktifitas saya. Saya bekerja rata-rata 10 jam sehari selain aktifitas masuk kampus yang memakan waktu rata-rata 6 jam sehari, tapi tetap saja pekerjaan tersisa segunung :nangis: .
Ketika saya desak kenapa nggak buat sendiri saja, dia pun mengaku kalau benar2 zero dan enggan untuk belajar lebih dalam.

Terus terang saya miris mendengarnya. Mengapa? karena sudah menjadi pengetahuan umum, kalau ingin buka usaha tertentu, maka tentu saja kita harus tahu tentang bidang usaha kita itu dengan baik dan benar. Dan jika belum punya pengetahuan itu, maka wajib hukumnya belajar.

Suatu hari saya pernah terlibat diskusi di warung kopi dekat eki dengan seorang rekan Jepang. Kala itu kami ngobrol tentang dunia usaha di Jepang ini. Menurut beliau, salah satu penopang dunia bisnis Jepang adalah keberadaan orang2 yang disebut SHOKUNIN. Shokunin ini adalah sebutan untuk orang-orang yang amat sangat ahli di bidangnya. Mungkin bidangnya itu hanya hal yang terlihat sepele, misalnya membuat pandai besi. Tapi shokunin-shokunin itu ibaratnya seorang samurai yang menguasai alur-alur pedangnya, mereka akan menguasai bidangnya hingga hal-hal terkecil. Kalau shokunin itu seorang pandai besi, maka ia akan tahu dengan detail bagaimana proses arang yang dibakar bersama serbuk besi akan membentuk lempengan logam yang lebih keras dari besi, walaupun ia tidak pernah masuk universitas dan belajar kimia. Tapi yang jelas, mereka pasti sudah mempelajari semua itu sebelum terjun ke dalam bidang itu. Tidak mau belajar? Pasti nggak bakalan jadi shokunin.

Dengan adanya shokunin-shokunin di Jepang, maka standar kualitas barang produksi negara ini diakui oleh dunia. Kalau anda seorang kenshusei saat ini, cobalah tebar pandangan anda di tempat kerja. Anda akan menemukan shokunin-shokunin dalam skala kecil di pabrik anda.

Apa yang ingin saya tekankan, bukan bahwa kita harus menjadi shokunin dulu sebelum memulai bisnis. Tidak perlu menjadi seorang insinyur peternakan untuk menjadi peternak ayam. Tapi sangatlah naif jika mendalami bisnis tapi tidak ada usaha untuk memperdalam ilmu tentang bisnis kita itu. Jika ingin bisnis mobil bekas, maka mulailah belajar mesin mobil. Jika ingin bisnis wartel, maka mulailah belajar tentang pesawat telpon. Dengan begitu, ketika mendapat kendala, anda tidak perlu kelimpungan mencari teknisi.

Penyakit yang banyak menjangkiti kita adalah ingin cepat berhasil dan menjadi bos, tanpa ingin bersusah-payah dengan belajar dan mulai dari bawah. Mungkin itulah sebabnya bisnis money game marak sekali di Indonesia, karakter kita yang kebanyakan ingin duit tapi ogah keringat. Dengan modal kecil dan ongkang-ongkang kaki bisa dapat jutaan rupiah perbulan Begitu janji-janji yang banyak sekali kita dengar di jagad bisnis di negara kita. Padahal buntut-buntutnya adalah, dengan modal kecil dan ongkang-ongkang kaki, pasti dapat hasil yang kecil juga

Ingin rasanya melihat banyaknya muncul shokunin2 di Indonesia. Tidak masalah kalau hanya shokunin peternak ayam, yang penting ia tahu bagaimana caranya menghasilkan ayam yang dagingnya lezat dan terbebas dari flu burung.
Bukan problem kalau hanya shokunin ikan bakar, yang penting ia benar2 bisa tahu cara memilih ikan segar, membakar, dan menyajikannya dengan sempurna.
Syukur-syukur kalau banyak yang jadi shokunin mesin, sehingga dunia industri kecil kita bisa mulai menggeliat. Kalau shokunin jadi banyak, maka kualitas hidup kita pun akan meningkat karena barang2 yang kita konsumsi meningkat kualitasnya.

Sedang berusaha jadi shokunin apakah anda?
Mari belajar.

Gambarouuu….

Wassalam,
yang sedang berusaha jadi shokunin PHP & MySQL 🙂

Pengecekan ulang berkala

Hari ini seusai memperbaiki database yang sempat tidak bisa diakses karena konfigurasi server yang tampaknya ada masalah, kami melakukan kegiatan rutin menyisir kembali dokumen2 yang sudah lama ngendon di Kobe.

Kebanyakan yang masuk "bengkel" adalah dokumen yang cara penulisan salah, tandatangan meragukan, rekening yang tidak memenuhi syarat, dan macam-macam. Ada sebuah aplikasi yang sudah hampir 3 bulan yang lalu kami hubungi pemiliknya karena mencantumkan rekening bukan atas nama pemohon, waktu itu yang bersangkutan menyatakan bahwa pemilik rekening itu adalah istrinya, oleh karena itu dia kami minta mengirimkan dokumen berupa fotokopi buku nikah, tapi hingga hari ini fotokopi buku nikah itu belum juga sampai ke tangan kami, sehingga terpaksa masih harus ngendon. :keringat_dingin:

Mungkin ada pemohon klaim yang merasa kesal mengapa kami menerapkan syarat pengurusan yang ketat.
Sejak semula komitmen kami adalah menolong rekan-rekan kenshusei. Perbuatan menolong itu kami wujudkan dalam dedikasi kami yang penuh. Kami bukan sekedar mencari uang 🙂 Kalau sekedar mencari uang, maka kami tidak akan perduli apakah dana itu sampai ke tangan yang benar atau tidak. kalau kami hanya peduli uang, kami tidak akan perduli walau aplikasi yang masuk bertandatangan palsu.

Sebagai orang Indonesia, kami punya kelebihan dibandingkan kantor pajak yang hanya dikelola oleh orang Jepang, yaitu kami lebih tahu karakter orang Indonesia. Kami tahu bahwa di negara kita tercinta, orang bisa "nembak" KTP, kami tahu bahwa ada banyak orang yang nggak akan segan-segan memalsukan tandatangan temannya demi 30 lembar 100ribuan. Dan kebetulan juga istri saya lulusan psikologi yang pernah belajar tentang tulisan tangan. Dan kebetulan lagi, saya pun pernah belajar tentang psikologi tulisan dan tandatangan sejak 10 tahun yg lalu, sehingga kami sering sekali meng-counter aplikasi yang terlihat mencurigakan, ada yang tandatangannya palsu, bahkan ada juga tandatangannya mirip sekali asli, tapi begitu kami teliti terdapat keanehan di titik krusial (mengenai titik krusial, itu rahasia perusahaan), dan setelah kami pojokkan akhirnya yang bersangkutan ngaku :bawah:

Kami nggak akan tanggung-tanggung dalam mengemban amanah, karena kami anggap itulah salah satu kontribusi kami dalam membangun masyarakat kita, walaupun dalam skala sangat kecil. Mudah-mudahan dengan begitu, kami bisa membantu teman-teman dalam mendapatkan haknya, sekaligus membantu mencegah orang-orang yang tidak punya malu mengambil hak orang lain. :marah: