Archive for April 2006

阪急グループの狙いは?

阪急グループの狙いは?=Apa yang dibidik oleh Hankyu Grup?
Demikian judul berita di media massa Jepang akhir-akhir ini. Hankyu Group adalah grup bisnis yang membawahi Hankyu Railway, Department Store Hankyu, puluhan hotel, dan berbagai macam jenis usaha yang berkantor pusat di daerah Kansai, Osaka, tapi cabang usahanya tersebar di seluruh Jepang. Sementara Hanshin sendiri adalah pesaing utama Hankyu karena genre bisnisnya sama dengan Hankyu, mulai dari Hanshin Railway, Hotel Hanshin, dan Department Store Hanshin. Jalur utama yang dilayani perusahaan railway-nya pun satu arah dengan Hankyu yaitu Osaka – Kobe. Satu-satunya pembeda yang utama adalah Hanshin punya HANSHIN TIGERS dengan fans fanatik yang jumlahnya tak terhitung di seluruh negeri ini.

Pada bulan Februari tahun ini saham Hanshin Group sebesar 47.53% diborong oleh Murakami Fund, sebuah perusahaan finansial ternama di jagad bisnis negeri Jepang. Kelihatannya akhir-akhir ini Grup Hanshin memang agak lesu denyut bisnisnya sehingga menurut petinggi perusahaan itu, mereka terpaksa menjual saham kepemilikan hingga giri-giri(nyaris) setengahnya. Setahun yang lalu sebenarnya kesempatan itu hampir disabet oleh Grup Livedoor, namun akhirnya gagal. Tahun ini baru Murakami yang berhasil mengantongi saham itu dengan harga sekitar 600-an yen/lembar. Melihat saham Hanshin sebesar itu nangkring di luar kandang, Hankyu Grup jadi ngiler dan mengajukan penawaran harga di atas 1000-an yen/lembar kepada Murakami. Sejak saat itulah spekulasi tentang kelanjutan berita ini jadi ramai, mengimbangi hangatnya berita tentang memanasnya hubungan Jepang-Korea sehubungan dengan TakeJima (pulau kecil di perbatasan laut Jepang-Korea).

Beberapa pengamat melihat langkah Hankyu untuk menguasai saham Hanshin Grup itu dari segi popularitas HANSHIN TIGERS. Grup baseball ini memang sangat membantu melancarkan jualan Department Store Hanshin dan grup bisnis lainnya. Setiap kali mencatat kemenangan di liga nasional, maka penjualan Hanshin Department melesat bak roket. Catatan terakhir menunjukkan bahwa ketika Hanshin Tigers menang, Hanshin Department Store membukukan penjualan lebih dari 200 milyar yen(kurang lebih 1,5 trilyun rupiah) hanya dalam beberapa hari. Padahal Hanshin Department hanya ada di daerah Kansai dan sekitarnya. Bayangkan kalau Hankyu bisa mendompleng ketenaran HANSHIN (& HANKYU ?) TIGERS, berapa banyak profit yang bisa diraup dari 優勝セール(WINNING SALE) yang department store-nya tersebar di seluruh Jepang termasuk Tokyo? mmmmhhh…..

Mau tahu siapa yang paling ketar-ketir kalau Hanshin dan Hankyu bersatu?
JR (japan Railway)! Saat ini JR sedang banyak dirundung masalah, mulai dari keuntungan yang merosot, hingga kecelakaan yang semakin sering terjadi belakangan ini (terbesar yg terakhir adalah Maret tahun lalu) sehingga kalau mesin uang terbesarnya yaitu JR NishiNihon terganggu operasinya oleh kedua Railway ini, maka konsentrasinya semakin terpecah. Berbeda dengan Perusahaan Kereta terbaik di negeri kita yaitu PT KAI (terbaik karena tidak ada saingan 🙂 ), JR walaupun BUMN, tidak manja dan tidak hanya mengharap suntikan dana melulu dari APBN. JR bersaing head-to-head dengan perusahaan Railway lainnya. Itulah sebabnya JR tidak boleh lengah dan mesti tangguh. Lengah sedikit? Perusahaan swasta murni bisa menyabet kesempatan.

Vodafone akan berganti nama

Kepastian penggantian nama Vodafone ini dirilis oleh Presiden SoftBank, Masayoshi Son, setelah pembelian saham mayoritas sebesar 97,4% dari induk perusahaannya di Inggris bulan lalu.

Lalu apa artinya bagi kita konsumen di Jepang?
1. Kalau anda pelanggan Vodafone, jangan ganti handset dulu. Tunggu saja setelah ada diskon besar2an pada saat launching merek baru

2. Simpanlah handset yang sekarang dengan baik, karena akan jadi benda bersejarah

3. Bagi kita yg bukan pelanggan Vodafone (termasuk saya) dan berstatus pelajar, mungkin harus sering2 baca iklan siapa tahu nanti tersedia juga diskon 50% buat pelajar seperti AU.

Ngomong2 kapan ya di Indonesia biaya telekomunikasi terjangkau seperti di Jepang? Web-based mail juga tidak kunjung diterapkan oleh operator telpon di negara kita, katanya sih ….. mereka rugi kalau SMS hilang dan diganti web-based mail, jadi kayaknya mereka pada kompak nggak pake latest technology, kacian deh kita2nya….

Saham LIVEDOOR secara resmi menghilang dari pasar

Hari ini secara resmi Livedoor dinyatakan 上場廃止 alias ditarik dari pasar saham. Perusahaan ini dinyatakan tidak boleh turun ke lantai bursa sebagai hukuman atas berbagai pelanggaran aturan main pasar saham Jepang. Di balik semua kemelut ini pasti telah banyak orang yang telah menangguk kerugian, tapi bisa dipastikan juga selama kemelut berlangsung ada banyak day-trader yang justru menambah pundi-pundi uangnya. Begitulah permainan di short term trading, bisa untung tapi juga bisa buntung hanya dalam sekejap. Tidak cukup modal dan nyali? Lebih baik jangan mencoba 🙂 Tapi kalau anda punya cita-cita membangun bisnis yang besar, belajarlah dari sekarang karena siapa tahu suatu saat perusahaan anda butuh dana yang bisa diperoleh melalui pasar modal dengan melepas saham.

Ada banyak pelajaran yang bisa ditarik dari peristiwa yang disebut LIVEDOOR SHOCK ini. Dari semula trik2 yang dipakai oleh Horie Takafumi untuk mendongkrak nilai saham perusahaannya, dinilai oleh banyak kalangan yang lebih senior sebagai langkah yang kurang mem-bumi. Dengan modal popularitas sesaat seperti pengumuman rencana pembelian klub Baseball (yg akhirnya dikalahkan oleh RAKUTEN) atau terjunnya Horie ke dunia politik dengan mencalonkan diri di daerah Hiroshima, saham Livedoor memang meroket jika dibandingkan sejak pertamakali turun lantai 6 tahun yang lalu. Tetapi tanpa dibarengi dengan kinerja yang berarti, maka Livedoor hanya melakukan money game karena tidak mendapatkan value added dari cabang-cabang usaha yang dimilikinya.

Usia muda dan uang berlimpah memang sepertinya melambungkan Horie ke awang-awang. Bisnis yang diliriknya bukan ke usaha yang punya tangible assets, malah ia lebih banyak mencari peluang di bisnis yang bergantung pada intangible asset seperti bisnis perjalanan ke luar angkasa(ditawarkan oleh badan antariksa Cina). Bisnis seperti itu kalau menjadi populer memang akan mendatangkan uang banyak, tapi jika namanya hancur karena sebab yang kecil pun, maka dalam sekejap akan bangkrut.

Beberapa tahun terakhir sudah banyak contoh perusahaan yang bergantung pada intangible assets hancur dalam sekejap, jangankan Livedoor yang boleh dikata masih usia bayi dalam bisnis, raksasa dewasa seperti Enron dan Worldcom di USA pun tumbang dalam sekejap karena skandal. Dengan modal reputasi saja, menjalankan bisnis tidaklah cukup.

Bagaimana dengan Indonesia?