ketika nurani terusik

Kemarin dan hari ini kesibukan tersita oleh kepedulian kepada sesama anaknegri. Berawal dari sebuah telpon di tengah malam yang menceritakan kisah yang begitu menyentuh nurani. Seorang anak bangsa dikhianati oleh orang yang telah dia jadikan tempat mengabdi selama 1 setengah tahun terakhir. Ketika tenaga tiada lagi berguna maka sang tuan pun dengan seenak hati ingin meninggalkan sebuah kewajiban yang sedianya harus ia lakukan.

Betapa manusia ini rendah, ketika ia meninggalkan kemanusiaannya. Karena yang tersisa adalah fisik dan insting yang tidak bisa dibedakan lagi dari binatang. Pantas saja orang jepang selalu menyebut diri mereka sebagai 話せる動物 (binatang yang bisa berbicara), memang banyak di antara mereka yang pantas disebut binatang karena hilangnya sifat kemanusiaan mereka. Pantaskah seorang manusia disebut manusia, ketika ia tidak lagi perduli dengan sesama manusia, dan hanya menganggap manusia lain itu tidak lebih dari sekedar alat produksi? How pathethic!

Bisa berhalaman-halaman kalimat kutulis, dan itu pun mungkin belum cukup untuk melepaskan semua kemarahan yang terpendam. Bisa berpuluh kata-kata kotor terumpat dari bibir, untuk menyumpahi orang2 seperti itu. Tapi hanya angin dingin yang akan menjawab, hanya dekapan malam dingin yang akan menimpali. Yang akan hadir bersama sebuah perasaan bercampur aduk di dalam diri, sebuah tekad, sebuah janji, bahwa ku tak ingin bangsaku selalu dihargai rendah seperti ini.

Tapi pertanyaan terakhir yang selalu muncul adalah "apa dayaku, apa usahaku?".

Sebuah tanya yang selalu menuntut jawaban.

Ini baru permulaan. Allahumma a′idniy fi iddati ikhwaniy.

5 comments

  1. Taufania(tamu) says:

    Alloh akan tetap menolong hambanya selama hambanya itu menolong saudaranya. Adapun kita ketika sedang terhina atau teraniaya harus sabar dan sadar bahwa itu semua terjadi atas kehendak Alloh semata, sehingga kita pulangkan segalanya padaNya, minta pertolonganNya, dan ambil hikmahnya. Dan jika kita terhina atau teraniaya kita harus ingat bahwa posisi kita sedang dekat dengan Alloh tanpa sehelai hijabpun menghalangi,so..itulah saat terbaik bagi orang untuk berdo′a, maka banyaklah berdo′a yang baik2 dan minta ampun ketika kita teraniaya. Do′akan pula keluarga dan bangsa kita. jangan cuma berdo′a agar sipenganiayaya kita diberi hukuman, jangan cuma itu saja.

  2. Ambo(tamu) says:

    Buat temanku yg sedang teraniya atau terhina semoga allah selalu menberimu kesabaran dan selaludalam lindunganya ,setelah mebaca tulisan diatas begitu beratnya mungkin musibah yg anda alami walaupun tidak dijelaskan seperti apa kejadianya .tp penduduk indonesia itu manusia dan juga penduduk jepang itu juga manusia spt indonesia ,janganlah meluapkan emosi spt mngatakan org jepang itu spt binatang yg bisa berbicara.terus terang saya selama ini hidup didlam sebuah keluarga jpg saya selalu dihargai dianggap dan mungkin juga saya mereka anggap udah dari bagian mereka dan selama saya bergaul sama mereka saya tidak pernah mendengar mereka menyebut diri mereka binatang yg bisa berbicara,dan menurut saya org yg memperlakukan saudaraku ini mungki dimuka bumi ini ada dimana mana termasuk dindonesia juga ,org jepang juga masih banyak yg menggunakan perasaan dan hati mereka juga kawanku mudah2an allah selalu melindungi kita semua

  3. Webmaster says:

    Salam kenal mas Ambo (atau Daeng Ambo ?),
    Tulisan saya di atas adalah cerminan sebuah kegundahan yang tidak terbendung. Apa yang dialami oleh seorang rekan kita itu amatlah sangat pedih sehingga saya yang hanya bisa mendengar dari jarak jauh pun sangat tersentak.

    Manusia adalah makhluk ter-sempurna ciptaan Allah SWT, ia dilengkapi dengan segala perangkat yang tak dipunyai oleh makhluk ciptaan Allah lainnya. Tapi ketika ia bisa berbuat yang setara tingkah laku binatang, bahkan bisa lebih buruk dari binatang (dalam Al Quran direpresentasikan dengan keledai). Lihatlah sekeliling kita, dan dengarlah berita dari segala penjuru dunia, maka kita akan mendapatkan kenyataan bahwa banyak manusia yang berperilaku melebihi binatang. Contohnya, kebanyakan binatang hanya membunuh untuk keperluan makannya, tapi simaklah berita di media massa, sering sekali kita mendengar pembunuhan yang dilakukan oleh manusia hanya karena hawa nafsunya. Simaklah data perang selama peradaban manusia, maka kita akan tercengang berapa banyak manusia yang mati di medan laga, masih beruntung mereka yang syahid karena membela kehormatan, tapi merugilah mereka yang tewas karena membela pemimpin yang zalim.

    Saya tidak mengatakan bahwa semua orang Jepang itu binatang 🙂 yang saya samakan dengan binatang itu adalah orang Jepang yang telah memperlakukan saudara kita seperti binatang, ketika tenaganya dibutuhkan maka dipakai, tapi ketika tenaga itu tak lagi ada maka boro-boro diberi perhatian, malah dicampakkan begitu saja.

    Saya mohon maaf kalau tulisan saya di atas menyinggung perasaan mas Ambo karena punya keluarga orang Jepang. Saya sendiri selama 5 tahun terakhir, hidup dalam masyarakat Jepang yang amat sangat baik. Saya bahkan punya host family yang seperti keluarga sendiri, kebaikan mereka rasanya tak akan bisa saya balas walaupun dengan segala upaya saya, itulah sebabnya saya mendoakan semoga mereka diberi hidayah ataukah diampunkan kemusyrikannya dan diberi kebaikan kelak di akhirat.
    Saya bukan orang yang benci Jepang 🙂

    Tentang 話せる動物 (binatang yang bisa berbicara), cobalah cari tahu isi pelajaran biologi di SD, SMP, dan SMU, maka mas Ambo akan menemukan sesuatu yang mencengangkan, karena mereka percaya sekali dengan teori Darwin dan menganggap bahwa ras manusia adalah sebenarnya sama dengan binatang, tapi dilengkapi dengan kemampuan ekstra yaitu bisa berbicara 🙂 Jika punya anak yang dibesarkan di Jepang, mari kita didik dengan baik supaya bisa mengenal Tuhan-nya, Rasul-Nya, dan pendahulunya.

    Kalau mas Ambo mau meluangkan waktu mencari tahu, pasti akan menemukan alasan kenapa saya menuliskan :

    Pantas saja orang jepang selalu menyebut diri mereka sebagai 話せる動物 (binatang yang bisa berbicara

    Kalau nonton TV Jepang pun akan banyak dengar pernyataan seperti itu.
    Ada perbedaan besar antara cara pandang orang Indonesia dan orang Jepang dalam melihat posisi manusia dan binatang di kehidupan ini. Karena banyak di antara mereka yang yakin bahwa suatu hari kelak, mungkin mereka akan reinkarnasi dalam bentuk sebagai binatang. Itulah sebabnya kita tidak akan mendengar orang Jepang mengumpat "omae saru!" atau "omae inu!"

    Di Indonesia? Jangan coba-coba 🙂

  4. Aryo(tamu) says:

    Semoga saudara kita yang teraniaya ataupun terhina tersebut diberi kesabaran, dan juga jalan ke depan yang lapang, dan yang terbaik, oleh Allah.

    menurut saya sendiri, orang yang "seperti binatang" itu bukan hanya orang jepang. ga usah jauh2, orang kita aja banyak yang gitu. misal aja para koruptor, atau pun para penebang/pembakar hutan, yang sedang marak sekarang ini. atau kalau mau lebih jauh, ada amerika dan israel :).

    sekedar memberi pendapat :).

    semoga yang terbaiklah yang akan Allah berikan kepada kita. amien

  5. Biasanya saya tidak posting di blog Anda Blogs tetapi terpaksa saya, amazing bekerja .. cantik

%d bloggers like this: