Jun 23

Definisi Khong Guan Bagi Si Bungsu

Akhir minggu lalu kami ke supermarket dan ketika akan membayar di kasir kami melihat gunungan produk biskuit Khong Guan yg sedang promosi. Si bungsu yang baru berusia 3 tahun spontan berkata dalam suara yang cukup besar.
“Banyak pa”.
Saya langsung tanya balik “apa de’ yang banyak?”
“Makanan ikan”, kata Anisa sambil menunjuk susunan kaleng Khong Guan itu.
Orang sekeliling kami melihat dgn tatapan aneh dan butuh beberapa detik hingga saya mengerti yang dimaksud si bungsu. Di rumah kami kebetulan ada kolam ikan dan si ade’ memang paling senang kalau pagi2 atau sore hari menemani ibunya memberi mereka makan. Pakan ikan itu saya taruh di dalam kaleng Khong Guan yang tipenya persis sama dengan yg dijual di supermarket, itulah sebabnya dalam memori si Ade’, kaleng Khong Guan berarti makanan ikan … hehehe
Akhirnya saya jelaskan bahwa Khong Guan itu isinya biskuit, dan yang di rumah setelah isinya habis diisi makanan ikan.

Hal sederhana ini menunjukkan betapa hebatnya pengaruh lingkungan keluarga selama masa emas pertumbuhan anak. Mereka belajar, mengolah data, mendefinisikan benar-salah, dan menyimpan memori berdasarkan interaksi awal mereka dengan keluarga. Karena itulah sering dikatakan bahwa keluarga adalah sekolah paling pertama bagi anak.

Oleh karenanya tidak mengherankan kalau seorang anak yang setiap harinya dibentak dan dimarahi akan tumbuh sebagai seorang sosok pemarah, emosional, atau mungkin selalu minder karena dalam program mentalnya dia mengira bahwa dia selalu salah dalam segala hal dan menganggap bahwa cara untuk membuat orang mengikuti keinginannya adalah dengan marah dan membentak.

Sebaliknya ketika seorang anak dibesarkan oleh orang tua yang selalu bersikap lembut, kemungkinan besar ketika masuk sekolah dan berinteraksi dengan teman-temannya pun akan bersikap lemah lembut dan akan stres ketika mendapati kenyataan bahwa ternyata di dunia ini ada orang yang sering marah dan bersikap kasar.
Akan tetapi keseimbangan harus kita jaga agar anak tidak membangun persepsi yang salah bahwa dia boleh melakukan apa saja karena orang tua yang selalu lembut dan membiarkannya. Ketika dia salah maka tegur dengan tegas, tanpa perlu melakukan kekerasan. Hingga sekarang dan mudah-mudahan hingga mereka dewasa, seingat saya, belum pernah saya memukul anak untuk melampiaskan amarah. Tingkat tertinggi ekspresi emosi saya adalah kalau saya sudah memanggil mereka duduk berhadapan menerangkan kenapa saya marah, menanyakan fakta menurut versi mereka, menatap tajam mata mereka dan menepukkan tangan dengan keras sekitar 20cm di depan wajah mereka (sebenarnya ini terinspirasi oleh film COLLATERAL DAMAGE-nya Arnold Schwarzenegger). Biasanya mereka akan mulai menangis. Dan jika mereka sudah mengaku salah dan meminta maaf ke adik/kakak/ibu/saya, maka akan saya peluk dan minta maaf karena telah marah.

Saya bukan ayah yang baik dan jauh dari sempurna dan tulisan ini bukan untuk menggurui. Tulisan ini untuk sekedar mengingatkan kembali prinsip dasar kami dalam mendidik anak.

Dalam masa emas perkembangan anak sebelum mereka berinteraksi dengan orang selain keluarga secara intensif, mereka sebenarnya sedang menyusun segala definisi tentang kehidupan yang akan mereka pakai hingga mereka merevisinya berdasarkan pengalaman hidup mereka sendiri. Jangan biarkan mereka salah mendefinisikan salah-benar dalam hidup ini, dampingi mereka ketika mereka sedang menyusun kamus kehidupan, jangan biarkan mereka terlanjur mendefiniskan Khong Guan itu makanan ikan 🙂
Have a nice day!

May 31

Ayo Pemuda Papua, Jadilah Sopir Atau Kenek!

Berawal dari obrolan teman workshop dari Timor Leste semalam, saya jadi teringat ketika di tahun 2008 saya harus pindah dari Himeji ke arah Kobe-Osaka karena rotasi ke HRD. Waktu itu saya sempat melakukan riset kecil2an untuk mencari tahu di wilayah mana yang paling nyaman ditinggali. Osaka sudah saya coret karena menurut data statistik memiliki utang yg harus ditanggung oleh penduduknya, konsekuensinya pajak daerah tinggi dan subsidi ke penduduknya kurang. Pilihan saya jatuh kepada daerah Itami karena sewa properti masih terbilang rasional, akses mudah, dan memiliki pendapatan asli daerah non pajak yang cukup besar karena menyewakan bandara Itami kepada Osaka Prefektur. Pilihan itu tidak salah karena ternyata memang pajak daerah Itami lebih rendah dibanding Osaka, biaya kesehatan untuk anak gratis hingga kelas 6 SD, tunjangan anak lumayan besar, tunjangan kelahiran yg besar, dan berbagai macam fasilitas layanan publik lainnya. Bahkan untuk urusan cetak kartu domisili atau keterangan pajak digratiskan jika membuat e-card khusus penduduk Itami karena pelayanan menggunakan vending machine otomatis yang tentunya menghilangkan biaya personnel.

Malam kemaren dua orang teman pegawai bank pemerintah dari Timor Leste itu bercerita bagaimana kehidupan di negara kecil eks bagian Indonesia itu. Secara umum mereka mengaku puas dengan kinerja pemerintahan mereka karena meskipun kebutuhan sekunder dan mewah seperti kendaraan, handphone, komputer, jam tangan, dan barang-barang semacam itu sulit terjangkau, tapi kebutuhan pokok mereka seperti listrik, air, pendidikan, dan kesehatan bisa diperoleh dengan mudah karena disediakan secara gratis oleh pemerintah.

Jika menurut informasi kawan itu, sebenarnya pendapatan asli negara Timor Leste boleh dikatakan terbatas karena mayoritas hanya mengandalkan kekayaan alam berupa minyak bumi dan gas alam. Itupun masih harus berbagi dengan Australia yg memegang hak pengelolaan sumber daya alam mereka saat ini dalam jangka waktu yang fantastis yaitu sekitar 70 tahun sebagai ‘upah’ membantu mereka ‘merdeka’ dari Indonesia.

Sebagai negara belia, mereka belum memiliki industri dalam negeri yang bisa dijadikan ladang pendapatan negara dari sektor pajak usaha. Beras mereka impor dari Indonesia dan belakangan dari Thailand dan Vietnam. Motor dan mobil dari Indonesia dan katanya ada banyak yang merupakan selundupan yang dilakukan dengan mengupah tentara mereka untuk membelikan di wilayah Indonesia. Para tentara bayaran itu akan melewati perbatasan Timor-Indonesia dengan jalan kaki lalu pulang naik motor yang sudah lengkap surat-suratnya versi Indonesia tapi sebenarnya ilegal di negeri mereka. Para soldier fortune itu dapat broker fee, sang pembeli pun senang dengan motor barunya.

Beruntung pemimpin mereka mengambil kebijakan moneter yang tepat dengan menjadikan USD sebagai mata uang resmi negara mini itu sehingga ekonomi mereka terbebas dari pergolakan nilai mata uang asing. Dengan USD, inflasi yang disebabkan oleh naik turunnya valas menjadi nol, tentu saja pada proporsi perdagangan luar negeri yang menggunakan mata uang tersebut.

Belakangan para generasi muda Timor itu sudah mulai sadar bahwa mereka terlalu ‘nurut’ kepada Australia atau Portugal dan sudah mulai muncul tuntutan untuk ‘membebaskan diri’ dari kedua negara sponsor itu. Bahkan menurut kawan itu sempat terjadi demo dari kalangan generasi muda yang menolak campur tangan asing dalam pengelolaan sumur minyak dan gas yang baru ditemukan.

Sekecil apapun ukurannya, pembiayaan negara pasti tidak sedikit . Menggaji PNS, membangun infrastruktur, menyediakan fasilitas umum, menyediakan cadangan devisa untuk perdagangan LN, membayar iuran keanggotaan anu, keanggotaan itu, dll. Tapi hebatnya, dengan pendapatan yang ‘tidak seberapa’ (sayang sekali saya tidak punya angka dan mereka juga enggan menyebutnya) negara mini itu mampu menggratiskan kebutuhan pokok rakyatnya. Saya jadi termenung dan jadi bertanya-tanya mengapa Papua dengan Garsberg-nya atau Sulawesi Selatan dengan tambang nikel Soroako-nya atau beberapa propinsi dengan sumur-sumur minyak dan ladang gasnya tak mampu melakukan hal tersebut? Saya memang belum berhitung seberapa besar penghasilan tambang kekayaan alam dan berapa banyak penduduk yang harus dibagi. Tapi saya yakin bahwa dari salah satu contoh yang saya sebut itu nilainya tidak akan lebih kecil dibanding perbandingan pendapatan Timor Leste berbanding jumlah rakyatnya.
Tapi pemerintah mereka melakukannya, sementara pemerintah daerah-daerah kaya di Indonesia tidak mampu (atau tidak mau?) melakukannya. Seandainya pemerintah pusat memberlakukan hak otonomi daerah dan pembagian hasil kekayaan alam dengan adil (bukan merata ya), maka tidak butuh orang pintar untuk berhitung bahwa seharusnya bandara terbesar dan tercanggih di Indonesia ada di Papua. Kereta cepat nan mahal dengan kecepatan 250km/jam bukan dibangun untuk rute dari Jakarta ke Bandung yg jaraknya cuma 200km, tapi mungkin dari Sorong ke Jayapura, pelabuhan laut termegah akan berdiri di bibir pantai Papua, mall-mall indah dan shopping center megah akan berdiri di kota Sorong, Jayapura, Timika, Manokwari, dll.

Ketika eyang Habibie pertama kali muncul di lingkaran satu istana sekitar 20 tahun lalu, ada harapan besar bahwa pusat kegiatan pembangunan infrastruktur akan berpindah dari Jawa ke arah Timur Indonesia. Sayang sekali beliau hanya bertahan dalam waktu terlalu singkat untuk sempat melakukan perubahan. Sehabis itu beberapa putra timur juga bermunculan di lingkar satu dan dua pemerintahan pusat, tapi sayang sekali kelihatannya tak mampu men-drive dengan kuat sehingga tetap saja kebijakan untuk daerah timur hanya terasa seperti lip service sebagaimana masa orde sebelumnya.

Di Amerika selama ratusan tahun orang kulit hitam dipinggirkan oleh ras anglo saxon. Semua itu baru mulai terhenti setelah Barack Obama yang merupakan representasi dari kalangan kulit hitam menduduki jabatan tertinggi dan paling bergengsi di negeri itu yaitu President of United States of America.
Mungkin, kebijakan pemerintah pusat kita akan memihak ke timur secara penuh jika presiden kita adalah orang asli Papua.

Bagi saudaraku atau kawanku yang asli Papua, kalau anda adalah generasi muda muslim yang memiliki ambisi besar, intelektual tinggi, berpendidikan bagus, melek politik, memiliki jaringan, peduli pada rakyat Indonesia, mau memajukan Papua, dan punya modal (atau minimal sponsor yang kuat), saya menantang anda semua untuk maju tampil ke depan. Jangan tanggung-tanggung, kalau anda hanya bercita-cita memerdekakan Papua dan mengincar kursi pejabat di negara baru itu nanti, maka cita-cita anda terlalu kecil. Kami menantang anda maju untuk mengincar posisi RI-1 atau RI-2!
Negara itu adalah kendaraan untuk mensejahterakan rakyatnya. Kita sudah punya kendaraan bernama NKRI. Kalau penumpangnya belum sejahtera, itu bukan karena kendaraannya yang buruk, tapi mungkin karena sopirnya yang kurang mampu, keneknya yang lamban, atau kondektur-kondekturnya yang payah. Jadilah sopir, kenek, atau kondektur agar mampu mengendalikan kendaraan ini untuk mensejahterakan penumpang mobil di pulau anda. Kalau Obama bisa, kenapa anda tidak?

Jun 12

Ceremony New Office 2015

Hampir seminggu terakhir tidur tidak pernah lebih dari 4 jam dalam sehari. Pasalnya sebagai project sub leader di kantor saya, manager A&P pak Ade (sub leader) dan Direktur Sales Pak Ozaki (Project leader) harus mengkoordinasi team yang terdiri dari puluhan general manager, manager, dan staf lainnya untuk mensukseskan acara peresmian kantor pusat dan pabrik baru kami di Kawasan Industri MM2100 Cibitung.

Sebenarnya di acara ini kami menggunakan jasa EO dari sebuah agency iklan papan atas di Indonesia, akan tetapi bercermin pada pengalaman perusahaan ketika peresmian pabrik plastik di tahun 2007, kami tidak mau mengambil resiko. Kala itu kami juga menggunakan agency lain yg juga boleh dikata masuk papan atas di dunia iklan dan EO di Indonesia, tapi banyak masalah di mana-mana. Akhirnya pada gawean kali ini, trio Kami mau tidak mau turun langsung dalam banyak hal yang seharusnya dilakukan oleh agency sebagai bagian dari tanggung jawab mereka dalam manajemen acara.

Peresmian itu dihadiri oleh menteri perdagangan Bapak Rachmat Gobel yang alhamdulillah bersedia meluangkan waktunya di tengah kesibukan beliau setelah sehari sebelumnya mengikuti perhelatan besar keluarga presiden di Solo. Awalnya kami sempat menawarkan fasilitas helikopter untuk menjemput beliau dari bandara menuju Cibitung karena kekhawatiran kami terhadap macet. Tapi beliau dengan rendah hati menolak dan justru memilih usulan stafnya menggunakan pesawat komersial Low Cost Carrier dari Solo. Kami sempat benar-benar merasa bersalah menyebabkan seorang menteri menggunakan airways yang saya sendiri sudah kapok menggunakannya sejak 12 tahun yang lalu. Alhamdulillah Allah membukakan jalan karena akhirnya pihak kementerian bisa mengatur jadwal beliau sehingga malam itu juga beliau bisa pulang dan di pagi harinya kami bisa menjemput beliau di kediaman di daerah Kalibata.

Ketegangan mulai berasa di hari H minus 1 ketika matahari sudah mulai hilang tapi persiapan produksi belum seluruhnya beres. Sistem registrasi masih saya benahi lagi karena database yg berubah hingga di hari terakhir. Saya akhirnya turun tangan langsung oprek-oprek php dan mysql karena merasa khawatir akan timbul masalah kalau sistem registrasi 300-an tamu hanya ditangani dengan lembar excel buatan teman-teman IT. Butuh semalam untuk menyelesaikan sistem itu. Lembar Excel buatan team IT kami jadikan sebagai back up system kalau-kalau ada masalah.

Production list yang dijanjikan pihak EO tidak kunjung muncul, sementara kami team inti di lingkar 1 mulai gelisah. Untunglah team registrasi sigap membantu dengan ditambah staf dari marketing dan sales sehingga ID card bisa beres menjelang tengah malam.

Selagi sibuk itu, di stage, Rieke Caroline, news anchor Metro TV yang akan menjadi MC di acara ceremony ternyata sudah hadir sejak jam 8 lewat. Akhirnya saya minta mereka mulai rehearsal dengan ditemani Pak Ade, sementara saya dan Pak Ozaki membantu menyelesaikan ID card peserta dan panitia. Sekitar jam 9:30 saya bergabung dengan team yg sedang rehearsal.

IMG_2146

Rieke Caroline in rehearsal.

Rieke terlihat santai padahal mungkin masih capek sepulang siaran. Beberapa kali saya mengintervensi karena beberapa script belum sesuai dengan yg sudah kami sepakati dgn EO. Setiap kali saya minta maaf karena intervensi, Rieke cuma tersenyum dan malah acungkan jempol pertanda all right. Jam 10:30 Rieke selesai dengan skenario yg sedikit berubah di sana-sini. Di bagian Voice Over yg menyambut menteri masuk ruangan, saya mengganti Rieke dan menyuruh staf EO melakukannya, kemudian VO itu sekaligus memperkenalkan Rieke sebagai MC sehingga pamor Rieke sebagai presenter bisa semakin mengkilap, hasilnya bagus.

Menjelang jam 12, meja reservasi belum beres, main gate belum selesai, back drop di ceremony venue masih on progress, dan sederet kerjaan lain yg masih tanda tanya. Tapi saya menenangkan pak Ozaki dan mengatakan bahwa di sinilah kehebatan orang Indonesia yg akan mampu menyelesaikan pekerjaan walaupun di akhir-akhir waktu. Saya mengajak pak Ade dan pak Ozaki untuk meninggalkan venue supaya mereka bisa konsentrasi dan tidak terganggu. Sekalian supaya kami bisa istirahat agar besok harinya bisa segar menjalankan acara. Saya menjabat tangan PIC production EO dan menatap tajam matanya “Jam 3, semua sudah selesai ya. Jam 3 mas”. Si mas-nya menjawab agak ragu “iya pak, insya Allah”. Kami meninggalkan kantor menuju Prime Biz, hotel bintang 3 di daerah Cikarang yang ternyata cukup bagus jika dibandingkan business hotel sekelas di Jepang. Jam menunjukkan pukul 2 lewat ketika saya nyungsep di balik selimut.

Jam 5 morning call berbunyi dan dengan mata yg masih berat karena tidur kurang dari 3 jam saya menyingkap selimut dan menyegarkan badan di bawah siraman shower air panas. Kami meninggalkan hotel jam setengah enam lewat.

Setiba di kantor perasaan agak lega karena persiapan sudah terlihat rampung. Kami berbagi tugas, pak Ozaki dan pak Ade menuju ceremony venue mengecek kesiapan, saya mengecek ulang database, sistem registrasi dan mempersiapkan terjemahan speech pak Nishimura, CEO Mandom Corporation Japan yang berubah total semalam, satu malam sebelum acara dimulai. Sistem registrasi sudah OK, tapi butuh sekitar 30 menit untuk menyelesaikan terjemahan pidato berbahasa Jepang sebanyak hampir 2 lembar A4 itu.

Sambil ngetik saya sambil mengontak  PIC yang standby di Fairmont Hotel, Borobudur Hotel, dan kediaman bapak Menteri. Rombongan Borobudur berangkat jam 6:30, Fairmont 7:15, dan pak Rachmat 7:50.

CEO Mandom Group Mr. Nsihimura

Karena para host adalah orang luar, mereka tidak mengenal CEO Mandom Group dan sempat mengarahkan untuk registrasi. Saya langsung ambil alih dan menunjukkan ruang SVVIP.

Menjelang jam 8 tamu mulai berdatangan. Beberapa kali saya menyemangati sambil menegor cewek-cewek cantik yang jadi host dan usher hari itu karena sempat meloloskan tamu tanpa disapa dan diarahkan ke meja registrasi. Akibatnya saya yang harus berlarian menyusul mereka sehingga konsentrasi saya mulai pecah. Padahal harusnya saya fokus di tamu Super VVIP.

Pengarahan ulang para host

Berkali-kali para host itu saya minta untuk bergerak menyambut tamu, bukan hanya diam mematung.

Melayani tamu

Melayani seorang tamu

Rombongan dari hotel borobudur tiba sehingga komposisi tamu yang hadir langsung membesar karena 1/6 tamu menginap di sana. Kondisi menjadi di luar kendali ketika tamu dari partner kami tiba. Kami sudah membagi rombongan mereka menjadi dua yaitu  chairman dan CEO ke Super VVIP, sementara lainnya ke VIP. Tapi strategi itu mentah karena beberapa dari rombongan itu ngotot ikut chairman ke ruangan SVVIP dan itu berefek pada semua prosedur berikutnya, mulai dari korsase penanda tamu SVVIP hingga ke shuttle ke ceremony site yg letaknya agak jauh dari holding room. Saya langsung meminta ke bagian transport untuk menyiapkan mobil tambahan bagi Super VVIP melalui HT. Inipun menjadi sumber masalah karena belakangan saya baru tahu bahwa ternyata channel yg saya pakai hanya dimonitor oleh panitia ring 1, yaitu saya dan Pak Ade. Bagian transport tentu saja tidak melakukan apa-apa karena informasi tidak ada. Keadaan itu diperburuk dengan kepanikan bagian transport sehingga bukannya menjejerkan mobil di lobi depan, mereka malah membariskan mobil di pintu belakang, sebuah langkah fatal yang menyebabkan strategi shuttle untuk SVVIP menjadi mentah. Beruntunglah Bapak Menteri malah menolak naik mobil dan memilih jalan kaki sehingga permasalahan shuttle menjadi beres.

Acara kami dimulai jam 09:30an, telat 15 dari target semula.

Acara berjalan lancar, 2 kali saya muncul di stage bagian belakang karena harus menerjemahkan pidato CEO Mandom Jepang dan Managing Director kontraktor kami Kajima Corporation. Kami sebenarnya menggunakan 3 interpreter, dua Indonesia-Jepang, satu indonesia-english. Tapi interpreter bahasa Jepang dua-duanya orang Jepang sehingga saya memutuskan menangani sendiri terjemahan Jepang-Indonesia.

Managing Director Kajima

Mendampingi speech Mr. Koshijima, Managing Director dari Kajima Corporation.

CEO Mandom Group

Mendampingi Mr. Nishimura, CEO Mandom Group.

Setelah bagian terjemahan selesai saya kembali mengambil posisi dekat panggung karena masih ada beberapa hal yg harus saya dan pak Ade tangani. Acara tidak ada masalah hingga penandatanganan prasasti dan pengguntingan pita selesai.

Prasasti signing

Penandatanganan prasasti oleh Pak Menteri

Pemotongan pita

Acara pemotongan pita.

 

Tamu Super VVIP

Bapak Menteri, Direksi, dan tamu VVIP lainnya berpose pada sesi foto.

 

Semua lancar-lancar saja hingga closing dan factory tour dimulai, dan di sinilah masalah terbesar muncul, saya ditelpon dan diberi tahu bahwa mobil catering yg membawa makan siang tertahan di tol karena ada kecelakaan yang menyebabkan kemacetan total dari arah Jakarta. Catering yang kami ambil adalah catering yang terbilang baru tapi memiliki nama karena konon sudah sering melayani hajatan-hajatan besar baik dari perusahaan-perusahaan besar maupun pejabat-pejabat tinggi. Tapi posisinya yang berada di Kemang memang hal yang kami tidak perhitungkan dengan matang karena ternyata itu menjadi penyebab semua masalah besar yang kami hadapi.

Setelah melepas beberapa rombongan dan kemudian setengah berlari menuju lunch room yang terletak lumayan jauh dari ceremony venue. Saya harus tiba sebelum rombongan factory tour pertama yaitu Bapak Menteri dan kementerian tiba di lunch room. Dan setibanya di sana saya langsung mencari PIC FnB, manajer A&P kami. Dan ternyata berita buruk itu benar adanya, mobil box catering yg membawa 300 porsi makan siang masih tertahan di pintu keluar tol padahal tamu-tamu mulai memasuki lunch room. Sambil menunggu catering datang, kami melanjutkan sesuai run down yaitu menunggu hingga semua tamu kembali dari factory tour dan acara potong tumpeng sementara Pak Menteri saya arahkan ke conference room agar media yang berjumlah 50an bisa meninggalkan ruangan lunch.

Ceremony (440)

Semua sudah sesuai rencana karena corporate secretary juga sudah standby di depan conference room siap menyambut Bapak Menteri yang hanya ditemani saya. Tapi saya terpaksa improvisasi karena dalam perjalanan menuju conference room Pak Rachmat malah berbelok ke show room tempat kami memajang produk-produk utama. Terpaksa saya yang menemani beliau, bukan corporate secretary Alia yang terjebak dan terhalang kelompok wartawan yang jumlahnya puluhan orang.

Pak Rachmat langsung menunjuk ke display Gatsby dan menunjuk ke Gatsby Pomade.

“Saya pakai yang ini” kata beliau.

“O ya pak? Makasih, ini salah satu produk andalan kami” saya sedikit berpromosi.

“Kalau yg ini laku juga?” Kata beliau menunjuk Gatsby Water Gloss.

“Itu produk dengan penjualan yang masuk kategori top dalam merek Gatsby. Bahkan ada 12 varian untuk produk ini dan yang kuning adalah yang paling laku” kata saya menjelaskan. Untung saja product knowledge saya cukup memadai untuk menjadi seorang sales karena selama 3 tahun di Management Planning saya memang hampir menghapal semua jenis produk andalan beserta angka penjualannya.

“Ini juga buat di Indonesia?” Tanya Pak Rachmat memegang Gatsby Moving Rubber yang berwarna biru.

“Kalau yang ini produk premium, kemasan kami buat di Indonesia, tapi isinya sementara masih buat hanya di Jepang karena proses produksi yang ekstra hati-hati dan bahan baku yang masih sulit di Indonesia” saya menjelaskan sambil menyobek shrink plastic produk karena beliau sangat ingin sekali melihat isinya.

Gatsby Moving Rubber

Antusiasme beliau mellihat isi produk kami.

“Saya suka ini” kata beliau

“Pegang dong produknya pak, hadap kamera pak” pinta wartawan yang bejibun jumlahnya.

Dan jadilah beliau berpose dengan produk kami. Sayang sekali saya berada posisi terjepit oleh puluhan wartawan sehingga tidak sempat mengeluarkan hape untuk foto.

Sekitar 15 menitan beliau melayani berbagai macam pertanyaan sampai akhirnya beliau merasa cukup dan menuju pintu keluar.

Gaya santai Bapak Menteri

Dengan santai beliau melayani pertanyaan-pertanyaan dari wartawan.

“Kalau sapi gimana pak? Kok malah nambah kuota?” Tanya seorang wartawan cewek di dekat pintu.

“Impor sapi kan dari dulu, kenapa sekarang nanya? Kamu ini nanya ngga pada tempatnya. Tanya dong yang berhubungan Mandom dan ekspor” pukas beliau.

Sementara itu asisten Rieke dari balik kaca bertanya dengan isyarat dan bahasa bibir yg artinya “selanjutnya bagaimana? Mbak Rieke nanya”

Saya memberi isyarat bahwa saya akan memandu pak Menteri ke lunch room dan minta beliau yang minta potong tumpeng.

Makanan dari catering belum tiba padahal jam sudah menunjukkan 11:30, waktu sholat jumat sudah sangat mepet.

Saya akhirnya mengawal pak Menteri menuju ruang lunch lalu mendekati Rieke Caroline yang sudah standby dengan mic untuk mengarahkan acara. Saya jelaskan singkat bahwa pak Menteri yang akan potong tumpeng dan serahkan ke perwakilan Serikat Pekerja. Rieke dengan sigap mengarahkan acara sesuai tugasnya sebagai MC. Tapi lagi-lagi Pak Rachmat berimprovisasi, tumpeng yang dia potong beliau serahkan ke CEO Mandom Group dan Chairman partner distributor kami.

Tumpeng Pak Menteri

Pak Rachmat menyerahkan tumpeng kepada CEO Mandom Group.

Saya membisiki perwakilan SP yang ada dua orang.

“Bentar ya, sabar”.

Tumpeng untuk SPSI

Mr. Nishimura menyerahkan tumpeng ke perwakilan SPSI Mandom.

Akhirnya setelah pak Menteri makan tumpeng, saya meminta CEO Mandom Group Mr. Nishimura dan CEO baru kami Bapak Makmun untuk bersiap memotong tumpeng. Tumpeng dari Mr.Nishimura diserahkan ke Ketua SP, sementara tumpeng dari Pak Makmun ke Sekjen SP, selesai sudah prosesi utama. Dan alhamdulillah makanan dari catering juga akhirnya mulai loading in.

Saya mendekati pak Menteri yang melirik jam tangannya, dan berbisik.

“Makanan sebentar lagi siap pak, bagaimana apakah Bapak berkenan makan siang dulu atau mau sholat dulu?”

“Ngga, saya mau sholat di Panasonic Cawang, sudah cukup lama saya ngga kesana” jawab beliau sambil memberi isyarat kepada ajudan bahwa beliau siap berangkat.

Saya langsung mendekati duo CEO kami dan memberitahukan bahwa pak Menteri akan meninggalkan lokasi. Akhirnya kami berempat diikuti ajudan dan pengawal menuju lobi utama, di lobi Pak Heru ikut gabung, mobil beliau sudah standby depan lobi. Beliau menjabat tangan kami lalu naik mobil dan melambaikan tangan ketika meninggalkan lobi dengan dikawal voorijder yang sudah kami siapkan. Di belakangnya mobil pengawal dan ajudan mengiringi.

Hufh, saya menyeka keringat yang bercucuran di dahi dan mengucapkan terima kasih kepada Mr. Nishimura, Pak Makmun, dan Pak Heru lalu menuju ruangan lunch.

Para tamu sudah mulai makan siang, dan saya langsung setengah berlari menuju masjid di lantai 2 karena khatib jumat sudah mulai berceramah.

Satu sesi utama selesai, saya menghela nafas panjang.

 

Beberapa link berita :

http://economy.okezone.com/read/2015/06/12/320/1164311/mandom-indonesia-resmikan-pabrik-baru-di-cibitung

http://djpen.kemendag.go.id/app_frontend/accepted_rsses/view/557e436a-9938-4d5e-ac98-1855c0a83502

http://www.satuharapan.com/read-detail/read/resmikan-pabrik-mandom-mendag-minta-tingkatkan-nilai-ekspor

Mar 23

Mari cerdas memilih pemimpin

Menurut anda bagaimana?
Ini bukan

“pemimpin yg muslim, terlihat santun tapi korupsi”  VS  “pemimpin non muslim, yg mulutnya kotor tapi menentang korupsi”

pemimpin yang baik
Ini adalah pilihan antara

“pemimpin yg berprestasi tapi tetap santun” vs “pemimpin yg mulutnya kotor tapi blm jelas hasil kerjanya”.

Kita masih banyak stok pemimpin yg berprestasi tapi tetap bisa jadi panutan anak2 kita. Emangnya anda rela anak2 kita klo marah kata2nya mengeluarkan isi toilet?
Menurut anda bagaimana?

Status update

Di satu sisi berharap bahwa adik-adik mahasiswa bergerak untuk menghentikan keburukan yang sudah berlangsung di depan mata kita selama 4-5 bulan ini. Pelemahan KPK, kemiskinan rakyat dengan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, bagi-bagi jabatan, dll sebelum terlalu terlambat. Tapi di sisi lain, tidak ingin peristiwa di tahun 1998 terulang kembali. Cukup lah sekali itu saja menjadi mimpi buruk kita. Tapi adakah cara lain?

Older posts «