Artikel Favorit

<< >>

Ilegal, prihatin.

Saya masih memacuurat2 syarafdi dalam otak saya untuk menerjemahkan beberapa lembar surat pemberitahuan yang akan dikirim ke kenshusei ketika Matsumoto Bucho menghampiri dan berucap chotto, sanjuppun de yoroshii desu ka?

QC

Minggu depan liburan musim panas akan dimulai. Bulan ini diawali dengan tahap selanjutnya dari proses training yang saya jalani. Sejak tanggal 1 lalu saya masuk ke departemen Quality Control di

Seminar Tentang Tenaga Kerja Asing di Jepang

Jam sudah menunjukkan pukul 13 lewat ketika saya dan manajer atasan saya di HRD meninggalkan gedung kantor pusat Mandom di bilangan Central Ward Osaka. Kami menggunakan subway dan meluncur menuju

Anda Kenshusei Yang Pulang Cuti ? Baca ini dulu….

Pulang cuti untuk melepas rindu pada keluarga dan handai tolan adalah hal yang banyak diidamkan oleh orang-orang yang tinggal jauh dari kampong halaman, apalagi bagi yang tinggal di luar negeri.

Survey for 卒論 (Skripsi)

Sejak kemarin secara resmi saya meluncurkan sebuah survey untuk bahan penulisan skripsi, sebagai tugas akhir saya untuk menyelesaikan kuliah ekonomi saya di universitas Hyogo, Kobe. Dengan bermodalkan database dari komunitas

Wisuda

Suatu hari sebuah perusahaan sepatu berkelas dunia mengirim salesmannya ke sebuah negara di Afrika. Salesman itu ditugasi untuk menganalisa peluang pasar di negara benua hitam tersebut. Ketika tiba di negara

Minggu Kedua

Hari ini sudah masuk minggu kedua kerja. Materi harian yang saya lakukan masih tetap sama sejak 2 minggu yang lalu yaitu chourei (朝礼=briefing pagi), mengamati pekerjaan staf di bagian produksi,

Nasehat Allah, Kimia, dan Akuntansi

Sewaktu duduk di bangku sekolah menengah atas (sebutannya SMA sebelum berubah nama menjadi SMU) tahun pertama saya sempat meninggalkan bangku sekolah beberapa hari dan harus menghabiskan waktu di bangsal rumah

Waktu yang berlalu

Hampir genap setahun yg lalu ketika terakhir kali saya menginjakkan kaki di kota kecil Aioi yang terkenal dengan dai-chan, yaitu sebatang lobak liar yang jadi tenar karena tumbuh dari sela-sela

Sudah Tua

Semalam saya pergi kondangan bersama teman, ini adalah kondangan resmi kali kedua semenjak beberapa belas tahun terakhir. Mungkin karena terlalu sering merantau maka saya nyaris tidak pernah menghadiri acara pernikahan,

Mengenal Bahan Makanan di Jepang – Emulsifier 乳化剤

Emulsifier atau dalam bahasa Jepang disebut 乳化剤 adalah bahan yang digunakan dalam banyak industri, termasuk makanan dan kosmetik. Fungsi utama dari senyawa ini adalah untuk mengikat bahan baku yang berasal dari minyak atau lemak dengan bahan baku liquid seperti misalnya air atau susu. Tanpa menggunakan bahan ini maka minuman ketika didiamkan akan mengendap, memisahkan antara yang minyak dan liquid. Dalam proses manufaktur, biasanya pencampuran dilakukan dengan spinning atau diputar dalam suhu tinggi agar tercampur dengan baik.

Bahan dasar emulsifier bisa berbentuk senyawa dari minyak atau mineral. Dalam industri minuman biasanya dipakai dipakai saat membuat teh susu, caffe au lait, caffe latte, dan bahan lain yg mencampur bahan baku yg bersifat minyak dengan air. Untuk industri makanan biasanya ada di dalam perisa onigiri, kue, keripik, dll. Di Jepang, jika tidak disebutkan bahan dasar emulsifier makanan dan minuman, maka sebaiknya hindarilah karena mayoritas menggunakan bahan hewani, dan jika hewani maka kemungkinan besar berasal dari babi. Alasannya sederhana, harga lebih murah sehingga ongkos produksi lebih rendah.

Untuk produk dairy seperti cheese, whip cream, dll ada beberapa produsen seperti MegMilk yang menggunakan bahan mineral berupa fosfat sebagai emulsifier.

Mari lebih teliti dalam mengkonsumsi.

Mengenal Bahan Makanan Di Jepang – Shortening ショートニング

Shortening ショートニング adalah bahan baku makanan yabg terbuat dari lemak yang memiliki karakteristik khusus yaitu tetap padat dalam suhu ruangan (20-25 C). Dalam bahasa Indonesia kadang disebut mentega tiruan, digunakan untuk mempertahankan tekstur yang renyah dan banyak dipakai dalam produk berupa cake, kue, segala macam roti, dll. Status kehalalannya tergantung dari bahan dasar yang dipakai, jika dari nabati misalnya minyak sawit (パーム油), maka insya Allah halal, tapi kalau dari minyak babi maka otomatis haram.
Di Jepang, berdasarkan pengalaman kami melakukan pemeriksaan bahan makanan sejak tahun 2000an, jika produsen tidak mencantumkan bahan dasar shortening maka sebaiknya hindari karena biasanya menggunakan bahan hewani, dan jika hewani maka mayoritas dari babi. Alasannya sederhana, yaitu harga bahan dari babi cenderung lebih murah dibandingkan yang terbuat dari ayam, apalagi sapi.
Wallahu a’lam bis showab.

Budaya 公私区別 (memisahkan pribadi dan dinas), Indikator Rasa Malu Pada Diri Seseorang

Menjelang penempatan 3 orang Global Management Trainee kami di departemennya masing-masing di HQ Osaka dan Fukusaki Factory, salah seorang dari mereka menghubungi lewat chatting WA.

Si GMT menanyakan apakah boleh mengajak keluarganya tinggal dan menempati apartemen yang disediakan gratis oleh perusahaan. Saya menjawab bahwa boleh kalau hanya datang berkunjung dari Indonesia dan menetap sementara sekitar 2-3 bulan. Tapi kalau sampai menetap beneran maka hal tersebut tidak etis dan amoral karena sedari awal dijelaskan bahwa fasilitas tersebut adalah untuk GMT, bukan untuk keluarga GMT, walaupun dalam surat perjanjian kami sengaja tidak mencantumkan bagian tersebut karena percaya bahwa penjelasan lisan saja sudah cukup. Si GMT tampaknya tidak keberatan dengan aturan tersebut dan tidak bertanya lebih lanjut.

Sebagian orang mungkin akan berpendapat bahwa hal itu berlebihan, karena sewa apartemen toh tidak berubah, baik dihuni satu orang maupun dua orang. Apalagi perusahaan hanya menanggung biaya sewa, selain itu ditanggung oleh pribadi.

Namun, di sinilah perbedaan persepsi yang bisa menunjukkan level moral seseorang. Di awal masa kerja karyawan baru, kami selalu memasukkan tema 公私区別 atau “memisahkan urusan pribadi dengan urusan resmi” dalam kurikulum pendidikan. Prinsip-prinsip dasar ini kami ajarkan dalam 1-2 jam secara intensif dan sangat serius karena hanya di awal masa karirlah kesempatan untuk itu. Dalam anggapan umum di Jepang, orang yang tidak bisa membedakan urusan pribadi dan urusan resmi, adalah orang yang gagal menjadi “shakai-jin” atau gagal menjadi manusia dewasa.

Edukasi sosial ini sangat mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Jepang, termasuk di dalam kehidupan politik. Mungkin ini yang menjadi kata kunci rendahnya tingkat korupsi di negeri sakura ini dibanding negeri kita, selain tingginya rasa malu yang mereka miliki. Sudah tak terhitung berapa banyak pejabat atau politikus yg mengundurkan diri dari jabatannya atau menghilang dari dunia politik karena diduga melakukan penyelewengan fasilitas jabatan. Skandal terakhir yg menggemparkan Jepang adalah mengundurkan dirinya walikota Tokyo Yoichi Masuzoe disebabkan terkuaknya skandal penggunaan fasilitas jabatan untuk plesiran keluarganya.

Makanya saya takjub sangat ketika seorang pejabat publik di Indonesia ketahuan memboyong anak, menantu, dan cucunya untuk plesiran menggunakan kendaraan milik negara, dan dengan entengnya mengelak tanpa malu mengatakan bahwa keluarganya itu bayar sendiri. Entah bagaimana cara ngitungnya, apakah dengan bayar seharga tiket VVVIP? Tapi pakai standar penerbangan mana? GIA? SQ? KLM? Trus, bagaimana dgn layanan ekstra yg dinikmati selama di tempat tujuan? Jemputan, hotel, transportasi, dll. Bagaimana proses bayarnya? Lampiran dokumennya apakah pakai itinerary bikinan sendiri? Kuitansinya atas nama siapa? Ditagih atas nama siapa? Dicatat sebagai penerimaan negara kategori apa? Bayarnya cash atau transfer atau potong gaji? Dan sederet pertanyaan yang membuat pernyataan “bayar sendiri” itu menjadi meragukan kebenarannya … hehehehe

Tapi ya itulah negeriku, negeri yang indah tapi sayang sekali dihuni oleh banyak orang yang pekertinya tidak indah.